Assalaamu‘alaikum Wr. Wb.

Sahabat seiman..,
Semoga diri tak pernah bosan mengurai nikmat, meski telah dirasa namun bisa jadi yang belum terlihat jauh lebih banyak. Hati yang bersih begitu rindu tuk mensyukuri, pikiran yang jernih begitu senang mengasah cerdas mengungkap hidayah di balik pandangan..

Sahabat seiman..,
Sungguh hati berdebar gempar saat tersentuh nasihat ayat yang berarti: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Q.S. Al baqoroh: 170), ternyata diri menyimpan potensi gengsi, menutupi kesesatan dengan kedok petunjuk, dan membela kebodohan dengan dalih kebiasaan..

Sahabat seiman..,
Seringkali diri terjebak membela salah daripada menerima hidayah, betapa sering diri memilih gengsi daripada menerima koreksi, dan tak jarang diri mendukung malu daripada memperbaiki perilaku. Jika kebenaran terukur dengan banyaknya pengikut, bukankah penghuni neraka jauh lebih banyak dari penghuni syurga? Jika karena banyak untung yang didapat, mampukah api syaitan menyaingi rahmat-Nya? Ketahuilah, hanya gengsi dan sombong yang membuat seseorang setia pada kesalahan..

Sahabat seiman..,
Semoga diri tak menikmati kelalaian, memandang indah kebodohan. Mari bersihkan hati, agar setitik hidayah dan setetes hikmah begitu terasa menyegarkan, lalu menumbuhkan kecenderungan dan kesetiaan pada kebaikan, selamat beraktifitas!

(kiriman email dari seorang rekan)