Lelaki Muda di Gerbong KeretaLelaki kurus berusia 25 tahun itu duduk di salah satu kursi gerbong kereta ekonomi. Ia duduk di dekat jendela lebar  bening yang tebal.  Sementara di bagian atas jendela lebar, ada jendela kecil yang terbuka. Tubuhnya disandarkan pada dinding gerbong besi yang dingin. Ada rasa kesejukan di lengannya. Tampak sekali terpancar dari raut wajah lugunya sinar kebahagiaan. Senyumnya tersungging mewarnai gerak-geriknya.

Seorang lelaki tua duduk di sampingnya. Kebahagiaan terpancar pula dari raut wajahnya. Sorot mata tuanya menunjukkan sikap kearifan. Kerut-kerut wajahnya menggambarkan kegetiran dan luasnya pengalamannya menjalani kehidupan dan kenikmatan bercumbu dengan waktu. Tidak sesaatpun ia memalingkan pengawasannya dari lelaki muda yang ada di sampingnya itu.

Kereta ekonomi mulai bergerak perlahan. Para penumpang sejenak menikmati sensasi hentakan perjalana kereta itu. Sementara itu, sang lelaki tua seakan menyakinkan pada si lelaki muda bahwa perjalanan ini akan menyenangkan. Sebuah anggukan, senyum ketulusan, dan sorot mata keteduhan mampu memberikan keyakinan pada jiwa si lelaki muda. Kereta mulai berjalan cepat meninggalkan stasiun.

Lelaki muda itu mengulurkan tangannya keluar jendela kereta yang terbuka itu. Dirasakannya angin mengayunkan gelombang-gelombang kesejukan di selasela jemarinya.

“Bapak, lihat pohon-pohon yang berjalan ke belakang!” katanya setengah berteriak pada lelaki tua. Ternyata ia ayah dari si lelaki muda.

Sang bapak tersenyum.  Ada rasa kekaguman dan kebanggaan di pandangan matanya. Ia terus memandangi sang putra yang terkesan oleh benda-benda di luar gerbong.

Kereta ekonomi itu menyusun tempat duduk secara berhadapan. Sepasang suami isteri yang duduk di depan mereka diam. Memandangi tingkah laku aneh si pemuda dan bapaknya. Ada perasaan canggung duduk berdekatan berhadapan mereka. Ada seorang lelaki berusia 25 tahunan, tapi bertingkah seperti anak kecil. Sementara orang-orang di sekitar tempat duduk  itu mulai memandangi sang pemuda dan bapaknya. Wajah mereka seakan dipenuhi tanda tanya.

Tiba-tiba sang pemuda berteriak lagi, “Bapak, lihat awan-awan itu! Mereka terbang mengikuti kita…”

Sepasang suami isteri itu memandangi si pemuda dengan pandangan merendahkan. Mereka menganggap bahwa lelaki muda yang ada di hadapannya itu adalah lelaki yang stres atau gila. Atau bisa jadi, ia adalah lelaki idiot.

Hujan gerimis bertaburan di luar kereta. Tangannya masih mengulur keluar jendela kereta. Rintik air pun menerjang jemari lelaki itu. Seperti cubitan-cubitan kecil di telapak tangannya. Matanya terpejam. Sensasi sentuhan dan kesejukan gerimis dirasainya sepenuh hati.

“Bapak, lihat. Air ini menyentuhku. Lihat, Pak…” ujarnya. Matanya masih terpejam menikmati hujan yang menjamahnya. Sementara sang bapak hanya tersenyum, tulus.

Sepasang suami isteri itu semakin kesal menyaksikan sikap kekanakan lelaki muda yang bersikap seperti anak-anak di depannya. Sang isteri pun berkata kepada si lelaki tua, Sang Bapak, untuk memberikan saran. Orang-orang memperhatikan.

“Mengapa kamu tidak membawa anakmu ke dokter agar ia memperoleh perawatan?”

Sang bapak mengalihkan pandangannya dari sang putera pada sepasang suami isteri di hadapannya. Ia masih menyunggingkan senyum yang sama.

“Ya. Kami baru saja dari rumah sakit. Hanya saja ini adalah hari pertama ia bisa melihat di dunia.”

Sepasang suami isteri itu diam, tidak berkata-kata. Orang-orang di sekitar mereka pun memalingkan pandangan dari mereka berdua. Kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Hal seperti ini sering terjadi pada kita. Dalam kehidupan, seringkali syak dan prasangka mendahului pikiran kita daripada fakta yang penuh. Pikiran kita begitu mudah disetir oleh pandangan parsial terhadap sebuah kejadian atau hal. Dan perspektif kita demikian mudah dibelokkan oleh ketidaktahuan. Seakan-akan kesan pandangan pertama adalah realita yang harus disikapi dengan tindakan.

Kita terlalu sering melupakan untuk memverifikasi fakta parsial yang terlanjur melekat dalam kesan pertama pikiran kita. Hingga kita sok merasa menjadi jaksa, hakim, dan penasihat sekaligus. Dan kita bertindak atas dasar sikap ‘sok merasa’ itu. Namun, kita melupakan tentang satu hal penting yang harus selalu kita pegang, bahwa kita tidak boleh mengambil kesimpulan sebelum mengetahui semua fakta-fakta.

Oleh Abu Saif,

seorang Multiplyer yang lahir di Yogyakarta.