Syukur Seharga Dua Puluh Lima Ribu
 Suatu sore di Medan. Jam pulang kantor menyibukkan jalanan, sedikit memacetkannya meski tidak seruwet ibukota. Saya pulang, menjalani aktivitas yang sama setiap harinya. Tidak ada yang istimewa, semua berjalan seperti biasanya. Rute jalan pulang yang sama, pengendara Medan yang ugal-ugalan, decit rem dan teriakan klakson, bahkan kepulan debu yang sama seperti biasa. Sama seperti hari kemarin atau kemarinnya lagi. Bedanya, sore itu saya sedang merasa tidak perlu terburu-buru, tidak merasa kesal meski berada di belakang mobil pick up yang berjalan perlahan dan merasa tidak perlu mendahuluinya. Meski asap knalpot dan debu yang beterbangan karena mobil itu membuat mata saya kelilipan.

Di atas bak mobil pick up itu, duduk tiga orang pria setengah baya. Berbincang santai seolah mereka tengah di kedai kopi (atau malah kedai tuak), kebiasaan banyak laki-laki di Medan. Entah apa yang mereka bicarakan. Wajahnya menunjukkan kelelahan, coreng moreng lumpur kering di tangan, di kaki termasuk pula pada pakaian mereka, menyamarkan warna baju mereka yang sebenarnya karena didominasi warna coklat, warna tanah.

Pemandangan yang tidak luar biasa juga tidak terlalu menarik, karena saya sering melihat orang-orang seperti ini. Saya tidak terlalu memberi perhatian sampai mereka mengeluarkan sesuatu dari kantong mereka. Lembaran-lembaran uang, tidak banyak. Dari posisi sepeda motor saya, saya masih dapat cukup jelas melihat uang-uang itu, dua diantara mereka menghitung lembaran-lembaran miliknya, saya pun ikut-ikutan menghitungnya, masih di atas sepeda motor saya tentu saja. Salah satu dari mereka memegang selembar uang sepuluh ribu berwarna merah dan tiga lembar lima ribuan. Oh, mungkin itu upah mereka hari ini, pikir saya. Apa yang istimewa? Tidak ada, kecuali bahwa mereka tersenyum lega saat memandangi uang itu. Menimangnya sebentar kemudian memasukkan lagi ke saku mereka. Tidak ada yang istimewa kecuali gurat syukur yang saya tangkap dari raut-raut lelah itu.

Uang sebanyak itu, beberapa jam sebelumnya saya berikan dengan suka rela pada mbak cantik penjual tiket bioskop di mall yang dekat dengan kantor saya. Dua puluh lima ribu rupiah ditukar dengan selembar tiket film Hollywood dengan cerita standar-action-superhero yang selalu menang- untuk menuruti keinginan hati, memanjakan mata saya selama 2 jam. Nonton saat jam kantor. Betapa memalukannya. Saat itu saya membela diri bahwa pekerjaan saya sudah selesai, kepala sedang penat butuh penyegaran.

Dua puluh lima ribu rupiah, apa yang sanggup kita beli dengan uang sebanyak itu? Apa yang dapat kita hargai dengan lembaran sejumlah itu? Apakah seperti saya yang hanya sanggup membeli tiket nonton? Sedangkan bapak-bapak yang saya lihat sore itu sanggup mendapat yang lebih besar. Rasa syukur.

Mereka sanggup membelinya hanya dengan dua puluh lima ribu rupiah. Entah bagaimana kondisi kehidupan mereka, saya tidak tahu. Tapi kemudian saya membandingkan mereka dengan diri saya, bagaimana kepala saya sudah mulai terbebani apabila mengecek saldo nominal di rekening saya tinggal 6 digit. Padahal dulu, baru 3 tahun sebelum sekarang saya merasakan kehidupan yang begitu bebas. Tanpa kecemasan yang berlebihan, tanpa ketakutan yang membayang.  Bagaimana dengan uang seribu tujuh ratus rupiah, selembar seribuan, sekeping lima ratus rupiah dan dua keping logam seratusan pada tengah bulan, saya masih dapat merasa tenang. Bahkan saya masih bisa makan 3 kali sehari pada saat itu. Tidak mengkhawatirkan apa yang akan terjadi esok pagi.

Ternyata satu hal yang mulai menipis pada diri saya, keyakinan dan kesyukuran. Keyakinan atas rezeki yang tidak akan salah diberikan. Keyakinan atas rezeki yang tidak akan lari. Kesyukuran atas apapun dan berapapun yang saya miliki.

Dahulu, saya sanggup hidup nyaman, hanya dengan sepersepuluh bahkan kurang, dari uang yang saya terima sekarang setiap bulan. Dulu saya tidak pernah risau apakah saya akan makan atau tidak hari itu. Tidak pernah. Lalu sekarang? Ternyata keinginan atas “kepemilikan” memiskinkan saya. Kebutuhan untuk “mempunyai” menjadikan saya makin jauh dari kecukupan. Dan perasaan untuk punya uang banyak  membuat saya merasa kekurangan.

Dua puluh lima ribu milik mereka sanggup membeli yang sekarang terasa mahal buat saya. Rasa yang mengalami kenaikan harga perlahan-lahan seiring dengan meningkatnya kehidupan menjadi semakin layak. Rasa syukur, rasa yang seharusnya senantiasa terpanjatkan sebanyak hembusan nafas. Karena hanya dengan rasa itulah Allah akan mencukupi dan mencukupkan dunia untuk saya.

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. 14: 7)

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq/65:2-3).

 

Oleh: Tri Susio Rohimmatun, Jakarta

Sumber: http://www.fimadani.com