Tafsir Al-Baqarah ayat 1 - 5Oleh : Ust. Dr. Muh. Muinudinillah Basri, MA .

QS. Al – Baqarah :

الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِن] رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

1. Alif laam miim.

2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,

3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

4. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

5. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Surat ini dinamai Al-Baqarah karena disebutkan di dalamnya kata Al-baqarah, (sapi betina). Yang berkaitan dengan perintah Allah kepada Bani Israil agar menyembelih sapi untuk mengetahui siapa pembunuh orang pada saat itu dengan cara memukulkan sebagian tubuh sapi ke mayit. Ketika sebagian sapi dipukulkan, mayit tersebut bangun dan menunjukkan siapa pembunuhnya dan akhirnya mati kembali.

Surat Al Baqarah dimulai dengan huruf-huruf abjad Alif Laam Miim sebagaimana permulaan surat-surat yang lainnya seperti: Alif Laam Raa, Alif Laam Miim Shaad dan sebagainya.

Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat yang tidak dapat dipahami maknanya. Pendapat lain memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran. Dan untuk mengisyaratkan kemukjizatan Al-Qur’an. Serta membuktikan bahwa Al Quran itu datang dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Yang kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad saw. semata-mata, maka cobalah mereka membuat semacam Al Quran itu.

Turunnya Al-Qur’an sebagai mukjizat sama dengan penciptaan manusia. Kalau Allah yang berbicara dengan huruf hijaiyah munculah sebuah kitab yang agung yang tak tertandingi. Sedang jika manusia yang merangkai dari huruf hijaiyah, bisa dipastikan munculah sebuah prosa ataupun syair. Allah dapat menciptakan dari tanah manusia yang memiliki ruh dan jasad. Sedang manusia hanya mampu menjadikan dari tanah, patung yang tak bernyawa.

Maka setelah isyarat mukjizat Al-Qur’an dengan menyebut Alif Laam Mim Allah menegaskan, bahwa kitab Al-Qur’an ini merupakan petunjuk hidup yang mengantarkan kepada kebahagiaan, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Yang mampu menghindarkan diri dari kecelakaan karena berbenturan dengan sunnah Allah kauniyah maupun syar’iyyah. Taqwa yang berarti memelihara dan menjaga diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Sehingga tidak cukup diartikan dengan takut saja.

Al-Qur’an dikatakan sebagai Al kitab yang berarti, Yang Ditulis. Sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis, demi menjaganya. Sebagaimana dinamai Al-Qur’an karena dibaca, seakan-akan dinyatakan silahkan anda tulis dari Al-Qur’an tapi akan diketahui keasliannya atau tidak dari hafalan dan bacaan para hufadz. Sebagaimana benarnya suatu bacaan Al-Qur’an akan diketahi dari kecocokannya dengan yang ditulis.

Kemudian Allah menerangkan sifat-sifat orang bertaqwa yang dapat menjadikan Al-Qur’an sebagi petunjuk hidupnya yaitu :

Pertama, Beriman dengan yang ghaib.

Ghaib adalah yang tidak dijangkau oleh panca indra namun ada. Jadi mereka meyakini yang ghaib walaupun panca indra mereka tidak menjangkaunya. Keyakinan itu muncul dari bukti-bukti yang nyata. Yang bisa dijangkau dengan akal dan hati ataupun fitrah. Inilah kelebihan orang yang beriman di atas orang materialistik yang kafir. Yang hanya menggunakan panca indra dalam menjangkau hakekat wujud, maka mereka sangat bodoh disebabkan mengingkari yang haq keberadaannya. Ghaib yang diimani orang bertaqwa adalah Allah dan semua yang diberitakan oleh Allah dari Malikat, Rasul, Kitab, hari akhir, qadha dan qadar Allah swt. Wahyu, siksaan dan kenikmatan kubur, sorga neraka, jin, ruh dan lain-lainnya yang tidak dapat diketahui kecuali melalui wahyu.

Iman adalah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman tersebut. Jadi iman bukanlah sekedar pengakuan melainkan ikrar dengan lesan, keyakinan dalam hati dan amal sebagai terjemahan keyakinan. Sifat pertama mereka beriman dengan rukun iman, dibuktikan dengan amal perbuatan yang sesuai dengan keyakinan, dari tauhid ibadah, hukum, niat untuk Allah semata serta menjadikan dunia sebagai bekal dan sarana untuk akhirat.

Iman dengan Ghaib adalah iman. Dengan arkanul iman, sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat, diantaranya : “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”( QS An-Nisa’ ayat : 136). Serta ayat : ” Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS Al-Baqarah ayat : 285).

Iman kepada Rasul dikatakan ghaib karena kita tidak akan dapat melihat bagaimana Rasul mendapatkan wahyu. Kita yakin karena bukti kejujuran Nabi, dan logika menerima bahwa Allah memberikan wahyu kepada sebagian hambaNya yang terpilih. Sebagaimana iman kepada kitab sebagai iman dengan ghaib karena kita tidak melihat turunnya wahyu kitab tersebut. Walaupun logika membuktikan bahwa wahyu tersebut datang dari Allah.

Kedua, Menegakkan shalat.

Ciri kedua orang bertaqwa adalah menegakkan shalat dalam arti menjaga dan memelihara pelaksanaannya dengan istiqamah, tepat waktu, khusu’, dengan jamaah. Dan yang penting menjadikannya sebagai sarana munajat dan mi’raj kepada Allah swt, menegakkan shalat dan menjaganya. Adalah ciri orang beriman kepada Allah dan hari akhir. Karena, dengan iman kepada Allah seorang menyadari kafaqirannya kepadaNya maka ia merendahkan diri kepadaNya. Dengan shalat ia menemukan segala kebutuhannya dihadapanNya, memperoleh penghambaan hakiki kepada Allah yang mengantarkannya menemukan kemerdekaannya yang hakiki dari seluruh dominasi Allah karena ia hanya hamba Allah bukan yang lainNya.

Menegakkan shalat dengan jamaah dan kekhusuannya sangat ditekankan oleh Islam, shalat fardhu dengan jamaah di masjid merupakan kewajiban dan sunnah yang membawa petunjuk. Dalam hadits Abdullah ibnu Mas’ud dikatakan :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

”Barangsiapa suka bertemu Allah esok hari dalam kondisi muslim, hendaklah menjaga shalat-shalat tersebut di mana dikumandangkan adzan untuknya, karena Allah telah mensyariatkan untuk Nabi kalian sunah-sunah petunjuk. Dan shalat jamaah termasuk sunah yang membawa petunjuk, dan kalau kalian shalat di rumah-rumah kalian seperti shalatnya munafik ini kalian pasti meninggalkan sunah Nabi kalia., Dan kalau kalian meninggalkan sunah Nabi kalian, pasti kalian sesat, dan tidaklah seseorang bersuci dan memperbaiki sucinya. Kemudian sengaja ke masjid. Dari masjid-masjid ini, kecuali Allah tulis untuknya setiap langkah yang ia lakukan satu kebaikan dan diangkat satu derajat, serta dihapus satu kesalahan. Dan sungguh kami melihat dan tidak ada yang absen ketinggalan dari shalat jamaah kecuali seorang munafik yang jelas diketahui kemunafikannya. Dan sungguh ada seseorang yang dipapah oleh dua orang sampai diberdirikan di shaff.” (HR. Muslim)

Adapun kekhusu’kan merupakan ruh dari shalat sejauh mana kekhusu’kan seseorang sejauh itu ia mendapatkan pahala shalat,: Amar bin Yasir ra. meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya laki-laki setelah selesai melakukan shalat ia akan mendapat pahala sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau seperdua.’’ (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Ketiga, menginfakkan sebagian apa yang Allah rizkikan.

Infak bagian terpenting dalam ibadah sosial dan ekonomi, sebagai bentuk pengakuan bahwa seluruh alam semesta adalah milik Allah. Manusia diberikan nikmat oleh Allah untuk mencari dan memanfaatkan rizqi Allah dengan izin Allah. Maka ia juga tidak lupa kewajiban untuk menyerahkan sebagian yang Allah titipkan kepadanya untuk diberikan kepada yang berhak. Infak adalah ibadah sosial sebagai indikator kebenaran iman, maka sering disebut sebagai shadaqah karena sebagai bukti sidiq kebenaran iman, dan disebut sebagai zakat. Yang menunjukkan kebersihan jiwa dari penyakit cinta dunia dan menjadikan dunia sebagai kiblat dan tujuan. Infaq sebagai simbul bahwa harta adalah sarana untuk beribadah kepada Allah dan berjuang di jalan Allah.
Keempat, beriman kepada semua kitab yang Allah turunkan, sebagai bentuk keyakinan bahwa seluruh nabi dan Rasul membawa ajaran yang sama yaitu mentauhidkan Allah dalam ibadah. Dan syari’ah sesuai yang Allah turunkan kepada setiap Nabi, kalaupun ada perbedaan adalah perbedaan dalam syari’ah karena disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Ketika Nabi tersebut diutus, maka muttaqin mengimani semua Nabi dan semua kitab. Dan ini menjadikan kaum muslimin mampu menjadi umat yang memimpin dan membimbing umat yang lainnya yang tersesat dari ajaran Nabi dan Rasul mereka, dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai tolok ukur menentukan keoentikan kitab kitab yang ada sekarang yang dinisbahkan kepada Nabi terdahulu. Karena Al-Qur’an membenarkan kitab terdahulu, sehingga kalau ada ayat ayat yang ada dalam bible yang dikatakan sebagai perjanjian lama (taurat) dan perjanjian baru(injil) sementara bertentangan dengan Al-Qur’an berarti ayat-ayat tersebut palsu dan kitab yang diklaim sebagai taurat dan injil adalah dipalsukan.
Kelima, yakin dengan hari akhir (muttaqin).

Sifat kelima muttaqin adalah yakin dengan akherat, memang hanya orang yang beriman dengan akherat manusia bisa melaksanakan segala kewajiban dan segala kebaikan. Betapapun beratnya, karena keinginan untuk mendapatkan kebaikan akherat yang jauh lebih besar dari proses pencapaian sebuah kebaikan tersebut. Sebagaimana iman dengan akherat sebagai rem yang paling pakem dari segala perbuatan buruk, karena kedahsyatan kiamat akan meruntuhkan dan melupakan segala kenikmatan yang dikejar dibalik maksiat. Dalam hadits shahih dikatakan : ”Akan didatangkan orang yang paling senang di dunia lantas dimaksudkan ke sorga, kemudian ditanya apakah engkau pernah merasakan kenikmatan ? Ia menjawab : Tidak pernah, sebaliknya didatangkan orang yang paling menderita di dunia lantas dimasukkan ke sorga satu celupan. Kemudian ditanya : Pernahkah engkau merasakan penderitaan? ia menjawab : tidak pernah”. (HR Muslim).

Iman dengan akherat selalu ditekankan dalam surat makkiyyah, dan diulang ulang dalam surat madaniyah sebagai penutup perintah dan larangan. Dan ini menunjukkan hanya dengan iman, akherat keshalehan terbangun, Nabi bersabda : ”Siapa yang beriman kepada Allah dan akhir hendaklah berkata baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan akhir hendaklah memuliakan tamu, siapa yang beriman kepada Allah dan akhir hendaklah memuliakan tetangga”.( HR Muslim).

Hadits ini menjelaskan penderitaan di neraka sesaat akan melupakan segala kenikmatan di dunia. Sebaliknya, kenikmatan sebentar di sorga akan melupakan segala penderitaan di dunia.

Orang orang yang bertaqwa yang beriman dengan ghaib, menegakkan shalat (hubungan yang mesra dengan Allah) membayar zakat( membangun ibadah sosial dan kemesraan dengan kaum muslimin).Yakin dengan akhirat yang mengantarkan untuk menjadikan Qur’an sebagai bimbingan way of live. Adalah orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan mereka adalah orang orang muflihun yang beruntung secara sempurna. Mendapatkan apa yang ia inginkan dan selamat dari apa yang ia takuti.

Lima ayat dari surat Al-Baqarah ini menurut Ibnu Abbas ra menjelaskan tentang orang beriman, sedang ayat 6 dan 7 menjelaskan sifat orang kafir dan ayat 8 samapi 20 menjelaskan sifat munafiqin. (Bersambung).

Sumber: http://fujamas.net/