عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ:

((كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ))

[ ابن ماجه ]

Artinya: Dari Ibnu Umar, ia bercerita: “Suatu ketika saya menyertai Rosulullah SAW, datanglah seorang laki-laki ansor dan mengucapkan salam kepada Nabi SAW. Kemudian pemuda ansor tadi melanjutkan dengan pertanyaan, ‘Orang mukmin seperti apakah yang paling utama?’. Beliau SAW menjawab: ‘Yang paling baik akhlaknya’. Ia bertanya lagi: ‘Orang mukmin seperti apakah yang paling cerdas dan bijak?’. Beliau SAW menjawab: ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian serta yang paling baik dalam mempersiapkan kematiannya, mereka lah orang-orang yang bijak dan cerdas’.” (HR. Abu Daud)