Cinta Sang NabiOleh : Fadhlan Al ikhwani.

Amul Huzni (tahun duka cita), demikianlah sebutan untuk saat itu. Saat Rasulullah Saw ditingalkan oleh orang-orang yang dicintainya, pada saat yang bersamaan dakwah masih membutuhkan kehadiran mereka. Wafatnya Abu Thalib yang disusul oleh Khadijah membawa angin segar pada para musyrikin Qurays untuk melancarkan gangguannya kepada beliau. Kekurangajarannya semakin menjadi-jadi, bahkan ada yang pernah menaburkan debu di kepala beliau secara terang-terangan.

Kepiluan yang begitu mendalam dialami oleh beliau. Namun perjalanan dakwah tetap harus dititi. Berangkatlah beliau menuju Thaif dengan harapan mendapatkan sambutan baik dari para penduduknya. Namun apa lacur, mereka justru mengumpulkan anak-anak dan para wanitanya di pinggir jalan yang dilalui oleh beliau sambil mencemooh dan melontarinya dengan batu atau kotoran. Begitulah sambutan penduduk Thaif kepada dakwah beliau. Begitulah sambutan manusia yang hendak diselamatkan dari kesesatan. Bukannya ucapan terimakasih yang terlontar, justru sikap kasar yang diberikan.

Dakwah pun berlanjut saat musim haji tiba. Beberapa kabilah maupun orang per orang beliau tawari Islam. Ada yang menerima dan tidak sedikit yang menolak bahkan mencercanya.

Disaat masa-masa terjepit itulah, Allah berkenan menghibur beliau lewat Isra dan Mi’raj. Dijalankanlah beliau dengan jasadnya pada suatu malam dari masjidil Haram di Mekkah menuju masjidil Aqsa di Palestina. Selanjutnya perjalanan berlanjut menuju Sidratul Muntaha dan Baitul Makmur lalu naik lagi menghadap Allah Swt. Perintah shalat lima waktu beliau terima pada peristiwa ini. Setelah itu beliau kembali ke bumi.

Akan halnya peristiwa ini, Muhammad Iqbal, seorang penyair Pakistan pernah berkata, ”Kalau saja aku adalah Muhammad, aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha”.

Perkataan Iqbal barangkali mewakili perasaan kita, sebagai umat manusia. Betapa, pesona Sidratul Muntaha tentu tiada banding dengan dunia yang penuh aneka permasalahan ini. Akan tetapi, beliau tetap kembali ke bumi. Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi, kata Anis Matta.

Sumber: http://fujamas.net/