Jakarta – Gunung Sindoro di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan aktivitas. Karena itu status gunung yang semula normal (level I) pun dinaikkan menjadi waspada (level II).

Menurut informasi dari vsi.esdm.go.id pada Selasa (6/12/2011), dari hasil dua kali pengamatan visual dan pengukuran suhu di kawah puncak, pada beberapa titik di sekitar kawah, yaitu tanggal 26 November 2011 dan 2 Desember 2011, menunjukkan adanya kepulan asap dari fumarol. Temperatur rata-ratanya 75 derajat Celcius pada 26 Oktober dan 95 derajat Celcius pada 2 November.

Lantas pada 2 November lalu, tinggi asap fumarol sudah melewati bibir kawah gunung, sekitar beberapa puluh meter, dengan tekanan asap lemah-sedang. Selain itu, kegempaan pun mulai terekam mulai Oktober hingga 4 Desember 2011.

Pada Oktober 2011 terekam 3 kali gempa vulkanik dalam (VA), 18 kali gempa tektonik jauh, dan 21 kali gempa tektonik lokal. Sedangkan pada November 2011, terekam 13 kali gempa vulkanik dalam (VA), 6 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 26 kali gempa tektonik jauh, 5 kali gempa tektonik lokal, serta 22 kali gempa hembusan.

Sedangkan pada tanggal 1 hingga 4 Desember 2011, terekam 20 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 2 kali gempa tektonik jauh, 3 kali gempa tektonik lokal, serta 6 kali gempa hembusan.

Peningkatan aktivitas Gunung Sindoro teramati dengan meningkatnya aktivitas kegempaan dan visual, terutama gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal. Peningkatan aktivitas vulkanik berupa gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal dikhawatirkan memicu peningkatan aktivitas vulkanik berupa letusan freatik atau letusan abu.

Pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) III (radius 2 km dari kawah) berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, gas beracun, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Lalu pada KRB II (radius 5 km dari kawah) berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Sedangkan pada KRB I sampai (radius 8 km dari kawah) berpotensi terlanda lahar dan perluasan aliran awan panas, dan berpotensi terlanda jatuhan batu pijar serta hujan abu.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMMBG) mengimbau masyarakat sekitar Gunung Sindoro tetap tenang, tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Masyarakat pun tidak diperbolehkan mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Sindoro dalam radius 2 km dari kawah puncak.

Selain itu, masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Sindoro dalam KRB II untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan gunung yang dikeluarkan oleh BPBD setempat.

Gunung Sindoro terletak di Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, dengan ketinggian 3.151 meter di atas permukaan laut (dpl). Letusan abu gunung ini mulai tahun 1818. Aktivitas gunung ini kembali tenang selama lebih kurang 60 tahun dan letusan abu terjadi lagi pada tahun 1882. Kala itu letusan diikuti leleran lava di lereng barat laut.

Tahun 1903 terjadi lagi letusan abu (sampai Kejajar dan Garung) dan letusan abu tahun 1906 (abu sampai Kledung). Setelah aktivitas letusan jeda selama 63 tahun, Gunung Sindoro kembali aktif pada tahun 1970 yang ditandai dengan munculnya kepulan asap putih tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap beberapa puluh meter dari bibir kawah, selama kurang dari satu hari disertai bunyi suara blazer.

(vit/nwk)