Tak terasa hari, bulan dan tahun berlalu, usia yang berlalu bertambah, sedang usia yang masih sisa makin berkurang, tapi sayang jarang yang menyadari bahwa sejatinya umur semakin habis sementara amal dan persiapan kematian sangat minim.

Pembagian waktu menjadi jam, hari, pekan, bulan dan tahun, memiliki fiosofi agar kita tidak membiarkan waktu lewat begitu saja, tapi apa program, cita cita dan kerja yang telah dan akan dikerjakan setiap pergantian waktu, Allah berfirman:

” Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak  Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa. (QS Yunus ayat : 5-6)

Pergantian waktu adalah untuk memahami bahwa sejatinya usia manusia semakin habis bukan bertambah, kemudian bertaqwa kepada Allah agar setiap detik, menit, hari, jam yang dilewatkan diisi dengan ketaatan kepada Allah swt. Sehingga menjadi saksi yang membelanya di akherat.

Allah swt menjadikan perubahan siang dan malam, hari, pekan dan bulan, untuk mengingatkan manusia bahwa sejatinya manusia melangkahkan kakinya menuju ke kubur dan alam barzakh. Lantas ke sorga atau neraka, apa yang diselesaikan dalam program hidup yang sangat singkat sangat mempengarui bahagia maupun celakanya di akherat kelak. Maka hendaklah seorang mukmin tersibukkan memikirkan penyelesaian tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi dari pada memikirkan sudah berapa lama umurnya, dan berapa banyak assetnya, yang akhirnya lupa akan akherat, dan datanglah kematian tiba tiba sedang tugas hakiki belum terlaksanakan dan bekal menghadap Allah belum disiapkan.

Sejatinya arti usia berbeda dengan umur, usia adalah waktu yang dilalui seseorang dalam hidup di dunia ini walaupun tidak ada aktifitas dan produktifitas sama sekali. Sedangkankan umur adalah asas manfaat diciptakan oleh seseorang dalam manggunakan usianya, maka bisa saja usianya sampai ratusan tahun tapi umurnya hanya beberapa saat, karena minimnya produktifitas hidupnya. Sebaliknya ada yang usianya sangat pendek, hanya puluhan tahun tapi umurnya tidak ada batas ruang dan waktu karena karya-karyanya yang bermanfaat sehingga sepanjang masa walaupun dia sudah mati tetap mendapatkan aliran pahala dari karya ilmu dan amal yang ia lakukan. Dan disinilah makna pergantian tahun adakah produktifitas umur yang dapat kita harapkan memberikan ketenangan hati bahwa hidup ini bermanfaat bagi alam semesta.

Dalam menyambut tahun baru kaum muslimin melakukan beberapa kesalahan yang perlu diluruskan.

Pertama, ikut merayakan tahun baru miladiyah padahal tahun baru miladiyah ada keterkaitan dengan idiologi non Islam, Rasulullah saw mengatakan “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka” Umar Bin Khattab ra satu dari khulafa’ Rasyidin yang kita dianjurkan mengikutinya telah menjadikan untuk kaum muslimin tahun baru sendiri yaitu tahun baru hijriyah.  Tahun masehi waktu Umar ra sudah ada, tapi beliau menghendaki perhitungan tahun sendiri bagi kaum muslimin agar Muslimun memiliki jati diri dan tidak ikut ikutan. Maka semestinya kaum muslimin memulai tahun baru dengan satu Muharram, dan dengan perhitungan hijrahnya Nabi saw.

Kedua, melakukan perayaan tahun baru dengan acara yang tidak ada manfaatnya, bahkan dengan berbagai maksiat hal itu sangat jelas terlihat pada waktu mereka berkumpul laki laki perempuan untuk menyambut detik-detik pergantian tahun baru pada jam nol nol malam hari dengan kebingaran maksiat.

Ketiga, adanya keyakinan dan ritual syirik besar ketika keraton melakukan arak kerbau kyai Slamet dengan perangkat keraton. Mengelilingi beberapa ruas jalan dan masyarakat berebut mendapat kesempatan mengusap benda benda kraton atau kotoran kerbau yang dikeramatkan. Dan ditampat lain tidak sedikit dari masyarakat yang berjalan kaki dari rumah mereka yang jauh untuk menuju ke keraton dan melakukan thawaf mengelilingi tembok Pura Mangkunegara tanpa bicara (tapa bisu) dengan tujuan mencari keberkahan dan keselamatan. Sungguh ini merupakan bentuk pembodohan dan kebodohan dalam mengawali tahun baru dengan kemaksiatan kepada Allah.

Islam tidak mengajari ritual tertentu untuk memperingati tahun baru, jadi suatu bid’ah kalau ada ibadah ritual tahun baru. Namun kalau untuk melakukan refleksi muhasabah dengan mengevaluasi kwalitas amal dan iman setahun yang telah lewat, mengambil pelajaran dari berbagai cobaan dan musibah yang melanda, untuk mengamalkan firman Allah :

” Hai orang orang beriman takwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diusahan untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah sesungguh Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS Al-Hasyar ayat : 18)

Dalam rangka mengamalkan firman Allah : ” Dan ingatkanlah mereka dengan hari hari Allah (hari-hari di mana Allah memberikan nikmat kepada hambaNya, atau memperlihatkan kekuasaanNya kepada mereka)

Dan dalam tahun baru dapat saja diceritakan tentang hikmah hijrah Nabi saw sebagai titik awal perubahan perjuangan kaum muslim dalam mengokohkan eksistensi dakwah dengan adanya komunitas yang siap membela Islam dengan harta dan jiwa mereka. Adanya bumi serta jiwa manusia yang siap merengkuh Islam, menjadikan Islam sebagai sistem tatanan hidup berpolitik dan bermasyarakat sehingga tegaklah daulah Islam.

Kesadaran berhijrah dari seluruh kaum muslimin ke Madinah untuk mensinergikan potensi mereka dengan negara Islam yang baru, sehingga Madinah sebagai Negara Islam baru tegak berdiri berkat Hijrah dan wala’ loyalitas kaum muslimin, dan cepat berkembang menjadi negara besar yang mampu melindungi aqidah, dan menyebarkan Islam keseluruh dunia.

Hijrah adalah kewajiban yang ditekankan oleh Allah, karena umat Islam tidak akan mampu membangun peradaban, dan memenangkan perjuangan. Kecuali adanya semangat hijrah, dalam arti mensinergikan potensi yang dimiliki dengan potensi umat Islam. bergabung dalam satu jamaah. Orang yang tidak mau berhijrah sangat berpotensi diirekrut oleh kekuatan musuh dan dipaksa berhadapan dengan umat Islam Islam sendiri. Dan bisa saja dia mati karena pedang kaum muslimin, sehingga rugilah dunia dan akherat.

Dalam riwayat diterangkan ada sebagian kaum muslimin Makkah tidak mau berhijrah, akhirnya pada perang Badar mereka dipaksa orang kafir ikut pearng melawan kaum muslimin, dan akhirnya mereka terbunuh, dan Malaikatpun menyiksa mereka karena keengganan mereka berhijrah, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya, “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini ?” mereka menjawab, “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Sebaliknya Allah menjajikan keluasan rizqi dan rahmatNya bagi yang berhijrah di jalan Allah, Allah berfirman:

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Sumber: http://fujamas.net