Bagian 1

Bismillah….

Ini ada beberapa hal yang perlu saya share ke rekan-rekan sekalian…

Bukan apa-apa, tetapi semoga bermanfaat, menginspirasi saya dan anda yang membacanya…

Ini tentang beberapa poin penting yang saya dapatkan dari diskusi kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus UNY Jogya pada hari Sabtu, 10 desember 2011 di Aula Fakultas Ekonomi UNY dengan tajuk “Mendaki Lahar Dingin Merapi”.. Pada agenda ini panitia penyelenggara mengundang beberapa pembicara yang kompeten dari lembaga peduli kemanusiaan di DIY dan sekitarnya.. lembaga tersebut yaitu: ACT (Aksi Cepat Tanggap) Jogja, Relawan Masjid Jogokaryan Jogja, Sekolah Pintar Merapi (SPM), dan BK FSLDK Peduli Nasional.

Acara ini dimulai pada pukul 08.00 sampai Dzuhur… acara yang meriah ini dihadiri tidak kurang dari 50an orang dari berbagai universitas di Jogja dan sekitarnya..

Pada diskusi ini saya tidak menyimak presentasi dari ACT, karena memang datang rada terlambat.. tetapi akan saya sampaikan beberapa hal yang dipresentasikan oleh lembaga lainnya…

inilah beberapa poin penting yang dapat saya sampikan kepada anda:

Presentasi dari Relawan Masjid Jogokaryan Jogja (oleh Ustad Fandi)

Banyak orang yang tergerah hatinya untuk jadi relawan dan terjun langsung ke lapangan dengan tujuan kemanuasiaan semata, kamipun demikian hanya saja motif kedatangan kami kedatang kami ke daerah bencana atau daerah rawan bencana bukan hanya sekedar motif kemanusiaan semata, namun lebih dari itu kami juga membawa motif akidah, dan itu yang sangat mendasar. Sehingga penjagaan dan pengembangan akidah adalah hal yang tidak boleh dilupakan bagi kita relawan muslim..

Saudaraku, lahan dakwah itu bukan hanya di masjid, di kampus dan di kota-kota besar saja. Justru daerah bencana sebenarnya adalah lahan dakwah yang strategis untuk kita masuki, karena ternyata disana kita tidak hanya sendirian, banyak orang2 dari agama lain yang juga gencar melakukan pemurtadan terhadap orang muslim, jika hal demikian ini kita biarkan, akan sangat berbahaya bagi keadaan umat ini..

Hal ini pernah kami alami “kata ustad fandi” ketika kami datang ke sebuah desa di Pelosok Boyolali yang notabene hanya berjarak 1 jam dari kota tetapi perbedaan yang amat mencolok sangat terasa disana.. Kami hanya terlambat datang selama 2 minggu “lanjut ustad” tetapi subhanalloh sudah hampir 40 orang yang mereka telah berubah agama dari muslim kemudian memeluk agama lain (baca: murtad).. Bahkan kepada desa pun sudah sangat mendukung pergerakan yang mereka lakukan (para misionaris).. bahkan ada orangtuanya pernah mewakafkan tanahnya untuk didirikan masjid tetapi setelah anak mereka terkena pengaruh dari orang2 misionaris, akhirnya dia berkeinginan mencabut tanah wakaf orangtuanya untuk dijual kepada pihak gereja.. naudzubillah.. tetapi berkat perjuangan keras kami dan uluran doa dan bantuan dari rekan2, akhirnya masjid itu bisa kami bebaskan dan alhamdulillah saat ini kami juga masih dalam proses pendirian TK bernuansa islam disana semoga alloh memudahkan..

Saudaraku sekalian, menjadi relawan adalah kegiatan yang amat mulia, akan tetapi jangan lupa bahwa niatan dalam hati ini harus senantiasa kita perbaharui, karena jangan sampai amalan yang begitu besar ini jadi tidak ada nilainya sama sekali dihadapan Alloh karena kita salah meniatkannya.. seperti halnya alkisah menyatakan bahwa ada segolongan orang yang  mereka mati berjuang di medan perang membela agama Alloh, mereka yang selalu berderma, dan mereka yang hafidz Al Qur`an tetapi mereka masuk neraka karena salah dalam peniatan amal2nya..

Maka dari itu, relawan adalah perbuatan yang mulia.. sehingga jalanilah amalan ini dengan ikhlas dan penuh harap akan ridho dari Alloh Ta`ala semata…

Satu hal pesan sepele yang effeknya bisa jadi gawe untuk kita semua, tentang pemberian lebel bantuan,. “kalau anda memberikan bantuan kepada korban bencana, jangan lupa anda sertakan lebel pada kerdus2, atau box yang kalian kirimkan, bukan bermaksud untuk pamer atau yang lainnya, tetapai hal ini untuk menunjukkan sapa identitas pengirimnya saja, jangan samapai bantuan yang kita kirimkan itu akan diklaim pihak lain untuk kepentinagn mereka sendiri,. (karena kalau keadaanya bukan darurat, biasanya bantuan yang masuk ke daerah itu akan di kumpulkan dulu sampai banyak, baru didistribusikan kepada masyarakat)” tegas Ustadz Fandi pada audien..

Kemudian di akhir sesi, Ada kisah tambahan dari seorang penanya tentang pengalamannya dalam penanggulangan kristenisasi di daerah klaten,.

“saya pernah juga ikut andil dalam sebuh pencegahan kristenisasi di daerah Klaten Tadz, kala itu terjadi kira2 dibulan desember juga, ketika menjelang natal seluruh warga desa diundang untuk merayakan natal di dalam gereja, baik orang tua, muda-mudi maupun anak2, disinyalir pada pertemuan itu orang yang datang akan dibaiat untuk pemurtadan sehingga kamipun berusaha keras unutk mencegahnya.. kalo harus semuanya tenaga yang kami miliki tidak mencukupi sehingga penanggulanagn kami fokuskan pada anak2. Kala itu kami merencanakan ingin mengajak anak2 bermain ke tempat wisata daerah setempat pada hari yang bertepatan dengan undangan dari sang miisionaris ditetapkan (acara kami dipagi hari dan acara di gereja adalah malamnya) Dan alhamdulillah anak2 pun respek dengan acara yang kami tawarkan sehingga mereka berhasil kita boyong ke tempat wisata tersebut.. kemudian sepulang dari kegiatan tersebut anak2 kami berikan obat tidur dengan dosis yang kami tentukan tanpa sepengatauan anak2, sehingga ketika sampai rumah anak2 pun tertidur pulas dan mereka tidak diajak untuk datang ke gereja oleh orangtuanya.. setelah kejadian itu ternyata orang2 misionaris mengetahuinya dan akhirnya kamipun ada sedikit masalah dengan mereka, tetapai lahamdulillah alloh memudahkan urusan kami dan permasalah tersenut dapat kami selesaikan juga..” cerita sang penanya…

Lanjut  ke Bagian 2, Bagian 3