Email dari FUPM (Forum Ukhuwan Pekerja Muslim)

TIDAK seperti biasanya, sore itu, ketika jam telah menunjukkan waktu
istirahat kerja, Sholeh, yang kesehari-hariannya mengais riski sebagai
tukang bangunan itu, langsung bergegas ke kamar mandi, guna
membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, setelah selesai, dia pun pamitan kepada
teman-temannya untuk pulang. Teman-temannya, merasakan, Sholeh sedang
terburu-buru.
”Gak duduk dulu, pak, Melepas lelah sebentar. Kan baru saja selesai
bekerja?”, ujar salah satu dari mereka.
”Ndak usah. Soalnya di rumah sudah ada yang menunggu,” jawab Sholeh
memberikan alasan kepada kerabat-kerabatnya.

Sholeh berharap secepat mungkin tiba di rumah. Entah mengapa, sore
itu, angkutan pedesaan yang biasanya hilir-mudik setiap saat. Tidak
biasanya kendaraan seramai itu. Sudah setengah jam dia menunggu.

Sholeh makin gundah. Pasalnya, di rumah telah menanti kedatangannya
puluhan anak tetangga untuk belajar ngaji. Dan hari itu, merupakan
hari perdana dia mengajar. Wajar kalau dia khawatir mengecewakan para
muridnya.

Karena tidak ingin menunggu lebih lama lagi, laki-laki yang telah
berkepala lima ini, pun akhirnya memutuskan jalan kaki.

Butuh setengah jam lebih untuk Sholeh menempuh perjalanan, guna sampai
rumahnya. Padahal, kalau saja ada angkutan pedesaan, tidak kurang dari
sepuluh menit dia sudah sampai tempat tujuan.

Dengan sisa-sisa tenaganya yang telah terkuras karena seharian
bekerja, Sholeh mulai melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah.

Benar saja, setibanya di rumah, nampak anak-anak telah berjubel,
memenuhi ruang tamu yang luasnya berkisar 6×4 Meter persegi itu, dan
bertembokkan gedek (anyaman bambu).

”Assalamu’alaikum, maaf yah, bapak terlambat datangnya. Dan ini bapak
mau sholat Ashar dulu, baru setelah itu kita mengaji,” sapanya kepada
anak- didiknya, dengan kondisi keringat masih bercucuran.

”Ia, ustad,” jawab mereka serempak.
’Terpaksa’ Jadi Guru

Menjadi guru, lebih-lebih guru ngaji, adalah sesuatu yang sangat tidak
terpikirkan oleh Sholeh sebelumnya. Dia hanyalah seorang laki-laki
yang akrab dengan pekerjaan keras. Pada tahun sembilan puluhan, dia
pernah merantau di Jakarta, dan bekerja di salah satu rumah makan.
Pernah pula ia menjadi buruh bangunan di salah satu bandara di ibu
kota tersebut.

Ceritanya, terdapatlah salah satu mushalla yang letaknya tidak jauh
dari tempat tinggal Sholeh. Di mushalla itu, ada anak-anak belajar
ngaji yang jumlahnya puluhan.

”Mungkin berkisar 60-70 anakaan”, ujar Sholeh mengingat jumlah santri
dan santriwati saat itu.

Setiap hari, mereka belajar di situ. Pengajarnya, dua pemuda, yang
salah satunya adalah putra Sholeh sendiri. Suatu hari, salah satu guru
mengajinya, melanjutkan kuliah di kota Pahlawan, Surabaya. Dampaknya
sangat terasa, terbengkalailah mushalla tersebut, termasuk puluhan
anak yang mengaji di sana.

Herannya, tak satu pun dari warga yang berinisiatif menyelamatkan
kehidupan mushalla tersebut.

Menurut Haris, mantan guru ngaji yang kini sedang menyelesaikan studi
di Kota Surabaya, penyebabnya, tidak lain karena banyak warga setempat
tidak bisa mengaji.

Maka, jadilah murid-murid Mushalla tersebut bak anak ayam kehilangan
induknya. “Mereka pun tidak pernah ke mushalla untuk mengaji lagi.
Hampir dua tahun, kondisi ini terus berlanjut,” ujar Haris kepada
hidayatullah.com.

Kondisi demikian itulah yang membuat hati Sholeh bergerak untuk
menyelamatkan para tunas muda tersebut.

Dia mencoba mendekati beberapa pemuda untuk diajak bersama-sama
mengajar ngaji, namun tak satu pun mereka menyanggupi.

Tak ingin patah arang, akhirnya Sholeh memutuskan untuk mengajar
sendiri murid-murid tersebut.

Karena keterbatasan tenaga dan waktu, dia hanya menerima separuh dari
jumlah keseluruhan murid musholla itu. Tempat mengajinya pun
dialokasikan ke rumahnya sendiri.

”Karena kondisi fisik tidak memungkinkan saya untuk mengajar mereka
semua, ya saya ambil separuhnya saja. Termasuk dipilihnya tempat ngaji
di rumah sini. Hanya untuk mempermudah,” ujar laki-laki yang rambutnya
telah memutih ini.

Minus Anggaran

Sejatinya, selain permasalaha SDM (Sumber Tenaga Manusia), Sholeh juga
memiliki persoalan finansial dalam membina murid-muridnya. Misal,
untuk memenuhi sarana dan prasarana mengaji, seperti karpet, dia harus
mengeluarkan koceknya sendiri. Padahal, gaji sebagai tukang bangunan
tidak lah seberapa. Itupun, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari
keluarganya.

Untungnya, satu ketika, ada salah satu darmawan yang dengan sukarela
mengetaskan permasalahan tersebut. Dia menyediakan bagi Sholeh
beberapa kursi yang terbuat dari kayu, sekaligus mejanya. Dan itu lah
yang dijadikan tempat duduk para murid Sholeh hingga saat ini.

Pernah juga, suatu hari ketika tiba salah satu peringatan hari besar
Islam (PHBI), anak didiknya merengek untuk mengadakan perlombaan antar
mereka guna memeriahkan hari raya tersebut. Padahal, uang di saku sama
sekali tidak mencukupi untuk menyelenggarakan acara tersebut.

Namun, karena tidak ingin mengecewakan anak muridnya, Sholeh pun, rela
meminjam uang ke tetangganya demi mewujudkan keinginan peserta
didiknya.

”Karena saking minimnya anggaran, juaranya-pun hanya dipilih yang
juara satu saja. Selebihnya tidak dapat,” kenangnya.

Sekali pun demikian, Sholeh tetap bahagia menjalankan rutinitasnya
sehari-hari, baik itu sebagai tukang bangunan, atau pun ketika
mengajar ngaji pada sore harinya. Semoga berbarokah, ya pak!*/Robinsah