Sebuah kisah unik kiriman kawan, tentang rindu seorang anak terhadap bapaknya,

rindu teramat sangat itu menjadi spirit baru bagi si anak untuk menggapai cita-citanya

Berikut Ceritanya:

“Suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan Bapakmu dan
keluarga-keluarganya yang pinter mengaji dan rata-rata sekolahnya
tinggi. Bagaimana kamu dapat bertemu mereka, apakah tidak malu.??!”.

Demikian kira-kira lontaran kalimat yang sering keluar dari seorang
ibu kepada anaknya, Ujang Nana, ketika malas mengaji, malas sekolah,
atau malas belajar di rumah. Ibu itu sangat paham dengan apa yang
harus dilakukan ketika anaknya malas-malasan. Cukup mengulang kalimat
demikian, dan hasilnya Ujang Nana melaksanakan, walaupun dengan
langkah gontai. Sering sekali kalimat itu diucapkan terutama, pada
pagi hari menjelang sekolah, menjelang adzan shubuh, adzan ashar, dan
adzan maghrib, dimana setelah waktu-waktu itu merupakan jadwal Ujang
Nana mengaji.

Di benak Ujang Nana, bertemu dengan seorang Bapak merupakan impian
yang sangat besar. Bagaimana tidak, sejak usia 4 tahun, Bapaknya telah
bercerai dengan Ibunya, dan semenjak perceraian itu, jangan kan kasih
sayang Bapak dia peroleh, kabar Bapaknya pun seperti apa dia tidak
pernah mengetahuinya. Kakek dan saudara-saudaranya selalu mengatakan
bahwa Bapaknya tinggal di Jakarta. Apa daya, barangkali belum ada
keberanian, bagi seorang anak sekecil Ujang Nana, yang baru menginjak
Sekolah Dasar untuk ke Jakarta. Dia hanya menyimpannya di benak dan
selalu ber-angan seperti apa yang dikatakan ibunya ‘Suatu saat nanti,
aku akan bertemu dengan Bapak, supaya tidak malu, aku harus pinter
-mengaji- dan -sekolah-’.

Ujang Nana terus tumbuh dengan harapan yang sama “suatu saat nanti“.
Sekitar usia kelas 2 SLTP, Ujang Nana se-Keluarga berkunjung ke
Jakarta untuk menghadiri pernikahan kakak sepupunya. Keluarganya telah
sepakat untuk sekalian mampir ke rumah Bapaknya. Jelas sekali
kegembiraan Ujang Nana saat itu, karena harapan “Suatu saat nanti”
akan segera menjadi “Sekarang saatnya” bertemu dengan seorang Bapak
yang menjadi impiannya.

Sejak malam keberangkatan dan selama perjalanan itu, konsentrasinya
terus terpusat tentang “apakah sekarang saatnya.?”. Hatinya
dag-dig-dug tidak karuan, ia terus berpikir “bagaimana sikapnya ketika
awal ketemu nanti.?”. Dia merasakan kecemasan yang luar biasa,
tubuhnya terasa lemas, ada rasa semacam demam dadakan, dan seperti dia
belum siap untuk bertemu. Dia mencoba untuk membayangkan sikapnya
nanti pada pertemuan itu “mm… mungkin aku hanya berani mencium
tangannya, tapi apabila dia memelukku, aku juga akan berani
memeluknya, mungkin aku juga akan menangis.. entahlah, yang jelas aku
rindu dan aku bahagia..!”, Ujang Nana mencoba membuat skenario.
Namun, apa yang terjadi?, dia tetap harus mengubur kembali harapan itu
dan hanya dapat menyimpan angan seperti apa yang dikatakan ibunya
‘Suatu saat nanti…‘.

‘Suatu saat nanti…‘, ternyata cukup mujarab bagi Ujang Nana untuk
berkembang, cukup mujarab bagi dia terutama saat-saat malas untuk
mengaji dan belajar, cukup mujarab bagi dia untuk mengendalikan diri
saat godaan-godaan yang menjauhkannya dari aktivitas mengaji dan
sekolahnya datang. Ia tumbuh besar dengan kekuatan itu. Ujang Nana
mampu menjadi seperti yang diharapkan ibunya, bisa mengaji dan
menyelesaikan sekolah sampai tingkat atas, dan bahkan sampai lulus
perguruan tinggi. Disela-sela liburan ketika sekolah atas maupun saat
kuliah, Ia selalu berkunjung ke Rumah di jakarta, tetapi hasilnya,
selalu dia harus membisikkan kedalam ‘telinga hati’-nya harap, “suatu
saat nanti…”, karena Bapaknya sudah cukup lama tidak pernah pulang ke
Jakarta.

Namun, buah kesabarannya membuahkan hasil, pada kunjungan ke jakarta
yang kesekian kali, salah seorang kerabat Bapak-nya menceritakan,
bahwa pada suatu waktu ia pernah diajak Bapaknya ke kediamannya.
Kemuadian Ia mencoba menjelaskan dan menyampaikan pengalaman
perjalannnya. “Bapakmu tinggal di kota ‘X’, dan saya tidak tahu persis
alamatnya, tapi kamu dapat menaiki bis… menuju ke…, kemudian angkot
…., menuju ke…, kemudian turun di…, kemudian tanya…, tetapi maaf saya
tidak dapat mengantar”.

Informasi itu?., ya hanya informasi itu memang yang Ujang Nana
dapatkan. Dengan ‘modal nekad’ atau apalah namanya, Ujang Nana
bergegas ke tujuan tersebut, menelusuri rute yang didapatkannya tadi.
Cukup pelik perjalanannya, dia hanya berbekal rute dan Nama Bapaknya,
yang sama sekali tidak pernah terbayangkan perawakan dan raut mukanya.

Di tujuan akhir rute yang diperolehnya, Ujang Nana mulai bertanya
perihal rumah tinggal Bapaknya. Dia berjalan menelusuri jalan setapak.
Dari jarak tidak begitu jauh, terlihat sebuah rumah sederhana yang
mungil, sesuai dengan petunjuk yang Dia dapatkan. Mungil, tetapi rumah
itu terlihat cantik. Halaman depan, kiri, dan kanannya ditumbuhi
beraneka ragam bunga, sangat terlihat indah. Disekitarnya ditanami
pohon singkong, pisang, dan tanaman pertanian lainnya. Tidak jauh dari
sana terlihat gunung yang menambah keasrian dan kesejukan daerah itu.

“Sekarang saatnya..!“, rasanya, Ujang Nana ingin beteriak dan
bersungkur untuk bersujud syukur, ketika perempuan paruh baya yang
menemuinya dan mengatakan bahwa, benar orang yang Dia cari tinggal di
rumah itu, dan sekarang lagi dikebun bunga sebelah Selatan rumah.
Sambil menunjukkan jarinya ke arah seorang lelaki yang bertopi dan
duduk di saung, perempuan itu berucap “itu orangnya.!”. Ujang Nana
mengeluarkan butiran bening dimatanya, dadanya terasa sesak, tetapi ia
masih mampu mengatakan “Kalo saya langsung menemuinya disana tidak
apa-apa bu?”. “Silahkan.!”, jawab perempuan itu.

Entah apa yang dirasakan Ujang Nana ketika itu, susah sekali untuk
digambarkan. Yang jelas degup jantungnya semakin kencang dan kembali
ia bingung dengan apa yang harus diperbuatnya. Apakah langsung
‘menubruk’ kemudian memeluknya, atau .., atau …, atau, dan atau ….!.
Sulit sekali Dia menentukan skenario apa yang harus dilakukan. Langkah
kakinya seolah lebih cepat daripada apa yang dia pikirkan.
Kenyataannya, dia sudah berada di hadapan Bapak yang selama ini
dirindukannya. Cukup kata salam yang dapat dia ucapkan sebagai awal
pertemuannya, kemudian memperkenalkan diri “Saya Ujang Nana Pak, Saya
dari kota ‘x’, dan Saya adalah anak Bapak..!”. Apa yang dilakukan
Bapaknya?, Ia cuma menjawab ‘O iya, silahkan duduk sini Jang.!’.
Walapun Ujang Nana, sangat merindukan untuk memeluk dan bersandar
dibahu itu, tetapi ia tidak berani melakukannya. Lelaki dihadapannya
tetap saja seperti orang lain yang baru dikenal, walapun selama ini
dia merindukan dan memimpikannya. Pertemuan itu juga tidak berlangsung
lama, hanya beberapa jam saja, karena Ujang Nana harus bergegas
kembali menuju kota lain yang cukup jauh dari tempat itu.

Pertemuan kedua, ketiga, dan keempat sudah cukup membuat hubungan
Bapak-Anak itu terlihat harmonis. Dari keduanya mulai berani
mengungkapkan kerinduannya, saling bercerita dan berbagi, tetapi hal
itu tidak berlangsung lama. Ujang Nana harus meninggalkan ‘Sekarang
saatnya’, karena setelah pertemuan keempat atau tidak lebih setahun
dari pertemuan pertama, Bapaknya meninggal dunia. Ujang Nana
mendapatkan informasi di tempatnya bekerja, dan itupun setelah
bapaknya di pembaringan terakhir. Ujang Nana hanya dapat menatap
gundukan tanah dan bunga taburan yang masih harum dan belum mengering,
menundukkan kepala sambil berdoa, kemudian merenung sambil sesekali
juga menatap kayu nisan yang tertancap di pembaringan terakhir itu.

Selamat jalan “suatu saat nanti“, karena “sekarang saatnya” untuk
meneruskan dan membangun “masa depan.!” agar kudapatkan “suatu saat
nanti-selanjutnya.!. amiin ya rabb.

—————————-

Tingkatakan amal ,ibadah dan dawah