PARADIGMA DAN PRINSIP

Bagian ini menekankan beberapa hal:

 

  1. Paradigma atau cara memandang kita atas sesuatu hal, orang atau peristiwa akan menentukan tindakan atau perilaku apa yang akan bermuka duakita laksanakan.  Sebagai contoh, apabila kita memandang gambar demonstrasi wanita tua atau muda tersebut; kalau kita memandang wanita itu sebagai wanita tua kita akan bilang “saya akan menyeberangkan” ketika melihat dia bingung menyeberang, sedang kalau kita memandang gambar itu sebagai gambar wanita muda cantik kita mungkin akan mengatakan untuk mengajaknya kencan.  Pendeknya, cara pandang kita atas suatu masalah merupakan masalah itu sendiri. Demonstrasi ini juga memberikan pengertian mengenai keragaman cara memandang setiap manusia, sehingga seringkali apa yang kita katakan sebagai “cara memandang yang benar dan obyektif” tidak selalu demikian menurut orang lain. Bagaimana mendapatkan paradigma yang tepat atas suatu permasalahan?  Ada fakta dan obyektivitas, bahwa memang selalu terdapat proses-proses persepsi dan kognisi sosial yang menghalangi seseorang untuk melihat sesuatu secara obyektif.  Cara pandang yang obyektif mensyaratkan kesadaran kita akan keberadaan bias-bias persepsi dan memandang dengan lensa yang jernih (ESQ= zero mind processess).
  2. Paradigma yang tepat berpijak pada prinsip.  Prinsip merupakan bagian dari hukum alam yang tidak dapat dilanggar.  Prinsip adalah pedoman berperilaku yang terbukti mempunyai nilai yang langgeng dan permanen.  Prinsip bersifat mendasar.  Prinsip pada dasarnya tidak dapat disangkal karena dengan sendirinya sudah jelas.  Contoh prinsip adalah integritas dan kejujuran, martabat manusia, pelayanan, potensi dan pertumbuhan, kesabaran, perhatian dan dorongan.  Prinsip bukanlah praktek.  Praktek adalah aktivitas atau aksi tertentu.  Praktek yang berhasil pada satu keadaan tidak harus berhasil pada keadaan lain.  Jika praktek bersifat spesifik menurut situasi, maka prinsip merupakan kebenaran yang hakiki dan fundamental yang memiliki aplikasi universal.
  3. Perbedaan antara etika karakter dan etika kepribadian dan perbedaan antara kebesaran primer dan kebesaran sekunder.  Etika karakter mengajarkan bahwa terdapat prinsip-prinsip dasar kehidupan yang efektif, dan bahwa orang hanya dapat mengalami keberhasilan yang sejati dan kebahagiaan yang abadi jika mereka belajar dan mengintegrasikan prinsip-prinsip tersebut ke dalam karakter dasar mereka.  Etika kepribadian adalah pandangan bahwa keberhasilan lebih merupakan suatu fungsi kepribadian, citra masyarakat, sikap dan perilaku, keterampilan dan teknik, yang melicinkan proses interaksi manusia.  Etika karakter berpijak pada prinsip.  Etika kepribadian seringkali bersifat manipulatif, seringkali menipu, mendorong orang menggunakan teknik-teknik tertentu untuk membuat orang lain menyukai mereka, atau berpura-pura tertarik akan hobi orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari orang tersebut, atau menggunakan penampilan kekuasaan untuk mengintimidasi pihak lain.
  4. Kebesaran primer dan sekunder.  Kebesaran sekunder merupakan buah dari kebesaran primer.  Kebesaran sekunder = etika kepribadian.  Kebesaran primer = etika karakter.  Tidak hanya bermain pada hal-hal yang periferal atau bersifat permukaan saja, namun menggarap hal-hal mendasar/primer.
  5. Prinsip pertumbuhan dan perubahan.  Etika kepribadian seringkali menawarkan semacam cara yang cepat dan mudah untuk mencapai kehidupan yang berkualitas –efektivitas pribadi dan hubungan yang kaya dan mendalam dengan orang lain- tanpa menjalani proses alamiah berupa kerja dan pertumbuhan.  Hukum alam mengajarkan bahwa untuk setiap tahap kehidupan terjadi urutan pertumbuhan dan perkembangan.  Seorang anak belajar berguling, duduk, merangkak dan kemudian berjalan dan berlari.  Tiap tahap selalu penting dan masing-masing membutuhkan waktu.  Tidak ada tahap yang dapat dilewati begitu saja.  Prinsip pertumbuhan dan perubahan menekankan bahwa untuk mendapatkan karakter, efektivitas dan kualitas kehidupan yang lebih baik, tidak ada jalan pintasnya sehingga semua tahap harus dilalui.

SEKILAS MENGENAI TUJUH KEBIASAAN

 Bagian ini menekankan beberapa hal:

  1. Karakter pada dasarnya adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan.  “Taburlah gagasan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib,” begitu bunyi pepatah.  Keunggulan adalah: “kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang.  Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.”  Kebiasaan memiliki “tarikan gravitasi” yang besar sekali, sehingga perubahan kebiasaan atau “peluncuran” membutuhkan tenaga yang besar sekali, tetapi segera sesudah kita memutus tarikan gravitasi, kebebasan kita menghadiahkan dimensi yang sepenuhnya baru.
  2. Kebiasaan merupakan titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan.  Pengetahuan adalah paradigma teoritis apa yang harus dilakukan dan mengapa.  Keterampilan adalah bagaimana melakukannya.  Keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan.
  3. Tujuh kebiasaan meningkatkan kita secara progresif pada kontinuum kematangan dari ketergantungan menunju kemandirian hingga kesalingtergantungan.  Pada kontinuum kematangan, ketergantungan adalah paradigma kamu – kamu mengurus saya; kamu datang melalui saya; kamu tidak berhasil; saya menyalahkan kamu untuk hasilnya.  Kemandirian adalah paradigma saya – saya dapat melakukannya; saya bertanggung jawab; saya percaya diri; saya dapat memilih. Kesalingtergantungan adalah paradigma kita – kita dapat melakukannya; kita dapat bekerjasama; kita dapat menggabungkan bakat dan kemampuan kita serta menciptakan sesuatu yang lebih besar secara bersama-sama. Kebiasaan-kebiasaan 1, 2 dan 3 memindahkan orang dari ketergantungan kepada kemandirian.  Kebiasaan- kebiasaan ini adalah kemenangan pribadi (private victory) inti dari pertumbuhan karakter.  Kemenangan pribadi mendahului kemenangan publik; prosesnya tidak dapat dibalik.  Prosesnya dari dalam ke luar.  Ketika sudah menjadi mandiri, terdapat dasar untuk saling tergantung secara efektif, untuk secara efektif mengupayakan “kemenangan publik” (public victory), yang lebih berorientasi pada kepribadian, dalam kerja tim, kerja sama, dan komunikasi pada kebiasaan 4, 5 dan 6.  Sedangkan kebiasaan 7 adalah kebiasaan pembaruan diri.
  4. Tujuh kebiasaan adalah kebiasaan efektivitas.  Karena didasarkan atas prinsip, ketujuh kebiasaan ini memberi hasil jangka panjang yang menguntungkan secara maksimum.  Ketujuh kebiasaan itu menjadi dasar dari karakter seseorang, menciptakan pusat dari peta yang benar yang memberi kekuatan dari mana seorang individu dapat memecahkan masalah, memaksimumkan peluang, terus menerus belajar dan memadukan prinsip-prinsip lain dalam spiral pertumbuhan meningkat secara efektif.  Ketujuh kebiasaan ini menjadi kebiasaan yang efektif karena didasarkan pada paradigma efektivitas yang selaras dengan hukum alam, suatu prinsip yang disebut “Keseimbangan P/KP”.  Efektivitas terletak dalam keseimbangan Produksi (P) yaitu produksi hasil yang diinginkan, dan Kemampuan Produksi (KP) yaitu kemampuan untuk melakukan produksi.  Jelaskan konsep ini dengan menggunakan fabel aeshop.

Oleh: TIM AMT UNS