Salah satu asumsi dasar dari experiental learning adalah bahwa belajar tidak cukup semata-mata dengan sekedar mendengar atau membaca saja.  Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa orang perlu untuk involve atas apa yang mereka pelajari; pemahaman kognitif harus diperkuat dengan pengalaman.  Untuk alas an ini, kebanyakan program training sekarang ini adalah kombinasi lecturettes, mencatat, diskusi, pengalaman berstruktur dan aktivitas kelompok, membaca, role play, studi kasus, simulasi, dan lain sebagainya.  Manajemen kelas tetap diupayakan berada dalam kerangka experiental learning dan adult learning, dan didesain untuk membantu proses-proses yang terjadi di dalamnya.

Untuk mengelola kelas secara profesional sebagai fasilitator, pengenalan terhadap fungsi-fungsi fasilitatif merupakan kebutuhan dasar.  Lieberman, Yalom dan Miles (1973) mengidentifikasi dan mengemukakan empat fungsi dasar statistik, yaitu :

  • Emotional Stimulation, adalah perilaku ekspresif fasilitator yang mampu merangsang ekspresi emosi peserta secara lebih lepas.
  • Caring, adalah perilaku mengembangkan hubungan interpersonal yang hangat dan bersahabat.  Hubungan ini dikarakterisasikan dengan pemahaman terhadap orang lain.
  • Meaning Attribution, adalah fungsi fasilitator untuk menyediakan penjelasan kognitif atas perilaku dan kegiatan yang dilaksanakan.  Sebagai keterampilan fungsional, meaning attribution berarti memberi arti atas pengalaman.
  • Executive Functions, adalah fungsi eksekutif fasilitator dalam kelas.  Dalam hal ini fasilitator menggunakan pendekatan-pendekatan manajerial atas segala aktivitas yang terjadi di kelas, seperti menghentikan aktivitas, bertanya kepada anggota kelompok untuk memproses pengalaman peserta, dan lain sebagainya.

Selain fungsi fasilitatif di atas, pengetahuan tentang model-model pelajar/peserta adalah juga pengetahuan yang akan sangat berguna dalam pengelolaan kelas.  Richman dan Grasha (1974) mengidentifikasikan enam gaya belajar.

  • Competitive, adalah mereka yang belajar untuk mengalahkan kawan-kawan sekelasnya atau orang lain.
  • Collaborative, adalah gaya belajar mereka yang percaya bahwa mereka dapat belajar lebih baik dengan berbagi dengan orang lain.
  • Avoidant, adalah mereka yang tidak tertarik dengan isi pelajaran dengan cara sederhana.
  • Participant, mereka yang betul-betul ingin belajar dan menikmati seluruh kegiatan belajar.
  • Dependent, mereka yang tidak punya atau kurang rasa ingin tahunya, dan ingin untuk diberitahu apa-apa yang perlu dilakukan.
  • Independent, mereka yang menikmati berpikir untuk diri mereka sendiri.

Menurut penelitian Cross (1976) orang akan menjadi lebih produktif dalam belajar apabila mereka belajar dengan metode yang sesuai dengan gaya mereka sendiri.

Dalam mengelola kelas, seringkali kita akan menjumpai situasi-situasi problematik berhubungan dengan peserta.  Tidak semua peserta mau bekerjasama dengan fasilitator dalam kelas.  Beberapa tipe peserta yang sering menimbulkan kesulitan dalam pengelolaan kelas diantaranya:

  • Peserta yang melarikan diri dari situasi belajar dengan satu atau lain cara.  Mereka tidak bisa “here and now” dalam menikmati situasi belajar.
  • Peserta yang tidak percaya dengan pembicara.
  • Peserta yang senang mengerjai pembicara.
  • Peserta yang terlalu diam.
  • Peserta yang kurang termotivasi.
  • Peserta yang terlalu mendominasi seluruh proses-proses dalam pelatihan.
  • Peserta yang menjadi trouble maker dalam kelas.
  • Peserta yang mempunyai kegemaran mengobrol sehingga mengganggu peserta lain.

Peserta demikian membutuhkan metode penanganan tersendiri.  Beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam menyikapi hal tersebut:

  • Berikan kesan profesional dan kredibel kepada peserta, baik dengan penampilan yang menarik, cara bicara, gestures, dan lain sebagainya (Problem 2,3)
  • Memberikan penekanan atas manfaat pelatihan.  Rangsang peserta untuk mencari manfaat bagi mereka sendiri (Problem 1,5)
  • Berikan kebebasan dan rangsangan kepada seluruh peserta untuk mengekspresikan dirinya (Problem 4, 5, 6)
  • Sampaikan humor untuk mempertahankan stamina peserta agar tetap fokus kepada pembicaran kita dan menciptakan suasana yang segar dan menarik perhatian mereka.
  • Kadang kala ada saat kita perlu memberikan teguran kepada peserta.  Usahakan teguaran tersebut tidak bersifat personal (7, 8).
  • Gunakan alat peraga.

Kadangkala ada momen tertentu dimana kondisi peserta benar-benar sulit untuk kita ajak konsentrasi secara penuh atas materi yang kita sampaikan, seperti setelah makan siang atau ketika larut malam.  Pada saat-saat seperti itu koleksi humor dan permainan energizer kita akan menjadi sangat bermanfaat.

Oleh: TIM AMT UNS