Sepenggal kisah tentang hariku…… (bagian awal daku potong)

……………………………………………………………………………………………………….Senyum Manis pun datang

Setelah melakukan aktifitas pagi yang cukup melelahkan, akupun istirahat sejenak untuk mngembalikan tenaga dengan berbaring ditempat yang sebelumnya aku gunakan tidur… tiba-tiba…. “tuling-tuling” ada SMS masuk dari nomer tak dikenal di HP ku.. setelah aku buka… “DUREN-DUREN” begitu bunyi SMS yang masuk tersebut… setelah kutanya siapakah identitas sang pengirim, ternyata aku tahu bahwa dia adalah Nungki, salah satu dari adek tingkat 2011 yang sering berkunjung ke masjid yng disana aku tinggal… “mas jadi kapan ketempatku, mau hari ini atau besok ahad? Durennya sudah matang neh, temen2 juga diajak ya.” begitu ringkasan rangkaian obrolan aku dan Nungki,. (Memang sebelumnya aku pernah bermain ke daerah sekitar rumahnya, tetapi belum sempat mampir, sehingga dia meminta aku kalo luang untuk datang silaturahim ketempatnya, karena kebetulan dirumahnya ada beberpa pohon duren yang sedang berbuah, dan dia tahu bahwa aku memang fans berat dari buah berkulit duri tersebut.. ^_^ he he he). Setelah SWOT jadwal agenda, aku putuskan hari ini aja deh,.. Rencana awal untuk puasa, kemudian aku tanggalkan, karena memang sebelumnya juga rada ragu untuk melanjutkan. He he.. semoga Alloh tida marah kepadaku.. “okey dek… hari ini aja… nanti mas tak carikan pasukan dulu..” kataku melali pesan singkat… setelah aku kontak temen2, ternyata banyak yang sudah ada agenda masing2, jadi akhirnya hanya kami bertiga lah yang akhirnya jadi berangkat, aku, Azis, dan Mas Eko…

Setelah bersih diri dan beres2, kamipun siap untuk berangkat.. waktu menunjukkan pukul 09.45, Mas Eko mengatakan kalo jam 13.30 harus sampai Solo lagi karena ada agenda,. Azis harus sampai Kentingan jam 15.30,. dan aku… gak mau ngapa2in kalo sudah ketemu buah berduri itu… “aku manut aja deh” kataku pada mereka.. he he he… Sebelum berangkat, kami putuskan untuk sarapan pagi bareng dulu,. “biar aman dilambung coy” kataku pada Mas Eko dan Azis… Dengan kondisi siap berangkat, akhirnya kami mampir dulu pada warung nasi langganan kami “Warung Makan Bu Warini”.. Mantaaaff…  Saat makan, saya baru teringat bahwa perjalanan menuju lokasi cukup jauh, dan memakan waktu hingga sekitar 1,5 jam. Karena mengingat waktu yang tidak memungkinkan untuk tiba di Solo pada waktu tersebut (pikirku), Aku menyarankan Mas Eko untuk izin pada agendanya, begitu juga pada Azis. “Okey” kata mas eko mengiyakan usulan dariku… dan “Liat sikon dulu saja deh” kata Azis kepada aku..  Jos…  Setelah makan kenyang (kira-kira pukul 10.15) akhirnya perjalanan dimulai….

…………………………………………………………………………………………………………………Jejak Menuju Duren

Tujuan perjalanan kami kali ini adalah Kecamatan Kerjo Kabupaten karanganyar, nama desanya aku lupa.. he he he... layaknya seorang rider sejati.. kami meliak- meliuk dan menyelip2 dikerumunan mobil yang berjalan padat merayap di jalan Solo-Karanganyar…. kecepatan penuh selalu terlihat di spedometer merah kusam  AD 3555 UC motor balapku… wush wush wush…. banter banget lajunya… (padahal mentok gur 85 km/jam, he he he).. dalam sekejam mata.. Tugu selamat datang Kabupaten Karanganyar telah menyapa hangat kami… Tapi perjalanan masih jauh kawan, baru ¼ perjalanan kita tempuh.. terus ku tancap saja handle gas di tangan kananku… “cling”… Tak terasa kami telah melewati padatnya lululintas di jalan Solo-Karanganyar, kulihat disana ada papan penunjuk arah mengatakan bahwa arah kiri adalah jalan menuju Karang Pandan, segera lampu sein ku nyalakan sebagai tanda aku akan berbelok mengambil arah ke kiri, dan sambil melambai2, Azis yang kebetulan berboncengan denganku, menguatkan tanda lampu sien tersebut seolah penari balet yang amat luwes geraknya… hi hi hi,. Keluar dari kota menuju Kecamatan Kerjo, pemandangan sudah mulai menampakkan perbedaan, gedung2 tinggi tak lagi aku lihat tergantikan dengan hijau pohon dan hamparan sawah serta pegununganya… Tak henti hati ini mengucap syukur dapat menikmati indahnya ciptaan Alloh yang teramat begitu luar biasa ini..

Perjalanan terus berlanjut, sambil bermanjakan pemandangan yang mantap, dasyat, luar biasa ini, terus kutarik handle gas di tangan kananku…. “Ngeeennngggg”.. begitu bunyinya kira2… ^_^.. Benar saja, semakin aku jauh dari kota menuju TKP, pemandangan yang ku temui semakin inda, hingga akhirnya aku terlupa terhadap jalan mana yang harus aku pilih, kanan atau kiri.. yah, sampai di Pasar Mojogedang aku dibuat ragu dengan jalan mana yang harus aku tempuh.. maklum lah kali pertama aku kesini ngepasi pas sakit, jadi tidak terlalu konsen pada jalan.. Terlebih aku golongan daran “B”, pernah baca disebuah artikel bahwa golongan darah “B” bukanlah tipe penghafal jalan yang baik… dan itu terasa pada diriku.. he he he… “ambil kanan aja deh” kataku kepada Azis, dan dengan reflek barangkali, Azis langsung melambaikan tangannya sekali lagi kearah kanan… kutancap habis kecepatanku, namun setelah 500an meter, ku kurangi kecepatan tersebut, karena….. “Masya Alloh.,.,. pemandangannya bagus bangets…..” teriakku kepada Azis yang berada di jok belakang… sedikit terlena, kemudian terbelsit dalam pikiranku, “dulu waktu kali pertama ke Kerjo keliatane jalane bukan kayak gini deh!!”,. Langkah ragu tidak mau kami teruskan, akhirnya aku putuskan untuk bertanya kepada Nungki yang sudah menunggu kedatangan kami di rumahnya tentang kebenaran jalan yang telah aku ambil.. “Dek, dari Pasar Mojogedang itu jalan yang harus kami ambil yang ke kanan atau ke kiri?” tanyaku sambl menikmati sejuk udara sepoi dan hijaunya pemandangan gunung.. “yang ke kiri mas, masa sudah lupa seh?”.. mendengar jawaban tersebut, aku dan Azis ngakak bareng ditempat… ha ha ha… “untung kita tanya dulu ya,.” Kata Azis sambil tertawa manyun… hi hi hi..  Terlihat disana mas Eko telah mengisi bensin eceran diseberang jalan tak jauh dari tempat kami berhenti.. Seeeet,. Segera aku putar arah dan menghampirinya,. “Hahaha, kita kebablasen mas, tadi karuse ambil yang kiri” kataku sampil senyum muanis buanget… ^_^… setelah selesai jok bensin, akhirnya kita putar haluan untuk kembali ke Pasar Mojogedang untuk menempuh jalan yang benar. Kik kik kik….

Jalan yang benar telah kami tempuh, mode tancap gas bergaya sok pembalap sekarang ber mode ON. Wush wush wush…. perjalanan kami sebenere rada pelan, namun angin yang bertiup rada kencang membuat seolah kami berjlan dengan sangat kencangnya… ha ha ha…. Terasa sesekali Azis memegang pundakkku dari belakang, memandakan bahwa dia rada takut ketika aku menikung dengan tajamnya… he he he.. Perjalanan selanjutnya tenyata terasa semakin menyenangkan, kini kami disambut dengan rapinya barisan pohon karet disekitar jalan.. MASYA ALLOH… mantap Gan….. pemandangan yang indah ternyata belum bisa mengalihkan kesenanganku untuk meliak liuk di track yang memang menyenangkan untuk membalap… terus saja ku tancap handle gas ditangan kananku dan… “Cling” kini aku sudah sampai di Terminal Bus Batu Jamus… “Alhadulillah sudah dekat ini” aku berbisik pada Azis, “tapi aku rodo lupa je, yang jalan terus apa ambil kanan ya” tanya raguku kepada Azis, “yawes daripada kesasar maneh, aku tak tanya disik wae lah.” Kataku, segera saja aku menghampiri seorang ibu yang berdiri menunggu angkutan disebrang jalan… “ngapunten buk, badhe nderek tanglet (maaf buk, mau tanya)” sapaku kepada ibu dengan berbahasa Jawa mlipit, untung lidahku tidak kesleo karena memang sejak di Solo jarang pake bahasa Jawa yang mlipit kayak tadi.. “iya mas” jawab ibu. “bu, menawi badhe teng kecamatan kerjo niku dalanpun lewat pundi njeh? (bu, kalau mau ke kecamatan kerjo lewatnya mana ya?)” tanyaku dengan bahasa yang sudah rada amboradul, hi hi hi.. “Oh lewatnya ini, ini dan itu mas” kata ibu menjelaskan sambil menunjukkan arah kepadaku. Setelah mendapat penerahan dari ibu, akhirnya kami meneruskan perjalanan,.. ternyata jalan yang harus kami ambil adalah belok ke kanan, bukan jalan terus,. Setelah 100 m dari tempat kami bertanya, aku sempat ragu, karena jalan yang ditujukkan ibu ternyata berbeda dengan  jalan yang pernah aku lewati waktu pertama kali ke sini. Tapi gak apalah… nurut ibu aja dulu, kali aja dapat sesuatu yang berharga… (terus menancap gas, tetapi sesdikit rada pelan…) benar saja ternyata pemandanga  yang begitu indah menyapa kami disekitar jalan yang kami lewat… mantap… hingga klimaksnya,. Kulihat putih2 berada jauh disana, “itu apa ya?” Tanyaku dalam hati… semakin penasaran, aku percepat laju roda motorku.. dan sampailah kami pada genangan air yang cukup luas yang sempat membuat aku penasaran… terbelsit tanya dalam hati, “ini waduk apa sawah yang kebanjiran ya? Kalau sawah tergenang kenapa ada tanggulnya, tapi kalau waduk kenapa hanya kecil banget ukurannya”. Udah ah, ngapain dipikir pusing, yang penting segera saja aku kesitu untuk menikmati indahnya alam disana.. terlihat disana ada sebuat tempat yang memang disediakan untuk istirahat sambil menikmati indah pemandangan waduk tersebut, dan kami pun menuju kesana… setelah sampai disana, Nungki kembali aku hubungi dengan selular yang aku bawa, untuk sudah daftar Obrol ya (sebuah program untuk ngirit telpon dari salah satu provider selullar) ^_^.. “Dek, aku sudah sampai di waduk neh, klo ketenpatmu masih jauh, lewatnya sebelah mana?” tanyaku memalui obrolan singkat.. “Oh, kamu disitu aja dulu mas, nanti aku yang kesitu.. ini motorku lagi bocor jadi masih menunggu juga nambalin di bengkel”. Jawab sigkat Nungki kepadaku..

di tepi waduk

Menikmati belaian angin di tepi waduk

Sambil menunggu kedatangan Nungki, kamipun melahapi indahnya pemandangan disekita waduk, terlihat disana hamparan air yang berwarna coklat muda bergoyang2 diterpa sepoi angin, hamparan sawah yang berwarna hijau segar disudut sebelah kiri dari tempat aku berdiri, terlihat bagai roti lapis berselai dengan tanggul2 yang meliuk indah bertingkat2, kemegahan jajaran bukit tepat berhadapan dengan kami diseberang waduk sana, dan disudut kanan telihat kokoh bangunan bendungan waduk menahan air dengan baru2 hitam menghiasi dindingnya.. melirik ke kanan dan kekiri, ternyata ada penjual es tong tong (es puter tradisional Jawa)disana, mau beli seh… tapi bentar ah nunggu Nungki datang sulu, biar bisa makan sama2.. namun ternyata 3 menit sebelum Nungki datang, penjual Es itu sudah berlalu… (kalau dia tahu isi hatiku, barangkali dia akan rela menunggu sampai  5 menit lagi.. he he)

Teng teng…. Akhirnya yang ditunggu datang juga.. “Itu Nungki” kata Azis sambil menunjuk kearah datangnya Nungki… “wah kita gak beruntung neh.. gak jadi beli es tong tong karena kamu datang terlambat 3 menit…” kata sambutan ku kepada Nungki yang baru saja selesai memarkir kendarannya.. he he he.. (sadiz ya…). Eemmmm, angin sepot teryata tak hanya mengelus rambut indahku, tapi juga mulai menggelitik dalam perutku (lapar)… coba lirik2 lagi ke kanan dan ke kiri… ups, ternyata ada abang  bakso malang datang.. ihir….. “ayo2 patungan tuku bakso gojek” kataku kepada yang lain… Setelah terkumpul beberapa uang, aku menyuruh Azis dan Nungki untuk membeli,, (he he he.. adik tingkat dikerjain aja).. ^_^.. Tak lama kemudian mereka datang kembali saat aku dan aku eko menikmati sepoi angin di tepi danau tersebut.. tapi ternyata apa yang aku pikir tentang bakso Malang adalah salah besar… “tak kiro bakso malang ki yo bakso gojek yang ada sunduke!!.. laha kok ternyata pake mangkok, pake kuah,, ada tahunya juga”.. kataku sedikit kaget ketika melihat Azis dan Nungi datang membawa 2 mangkok bakso Malang… “he he he… ternyata malah dapat 2 mangkok mas” kata Nungki sambil senyum2 padaku… “lha gimana, mau nambah 2 mangkok lagi gak?” kataku sambil mengeluarkan dompet berlagak BOS.. padahal tu dompet ya gak ada isinya… ha ha ha… “gak usah aja mas, ini buat kamu aja…” kata Nungki yang sok baik, padahal aku tahu tuh air liur sudah membanjiri kerongkongannya.. he he he ^_^.. “yaudah deh, kalian minta sendok lagi aja pada yang jual tadi” kata Mas Eko… “SEPAKAT tuh, kita buat kenangan yang indah di deket danau ini” sahutku… langsung aja deh, Setting MUKA GEMBEL mode ON… dengan PeDenya akhirnya bakso yang hanya 2 mangkok itu kita nikmati ber 4.. Jos…. Romantis kan?… Orang2 disekitar kami aja pada lirik sambil senyum2.. karena settingan GEMBEL sudah mode ON… ya kami gak perdulikan aja… he he he ^_^ DASAR GEMBEL…

 angin sepoyDari kiri: Nungki, Didik, Azis

Setelah perut rada anget.. terdengar sayu suara yang terbawa angin “Allohu Akbar- Allohu Akbar”… ternyata waktu sudah mulai memasuki Dzuhur, kami segera bergegas untuk berangkat kerumah Nungki… Namun saat melihat masjid di sebrang jalan, akhirnya kami putuskan untuk mampir dulu untuk sholat berjamaah disana baru kemudian melanjutkan kerumah Nungki…

…………………………………………………………………………………………………….Alhamdulillah sampai di TKP

Pemandangan dari waduk ke tempat Nungki ternyata luar biasa, Masya Alloh… hutan karet yang berbaris rapi, jurang dengan tebing yang eksoktis, dan liukan sungai bagai ular yang berjalan nampak teramat indah memanjakan mata kami dari kejauhan saat perjalanan.. dan akhirnya setelah berjalan kurang lebih 15 menit kami sampai di rumah Nungki di kabupaten kerjo… Sambil mengucap syukur Alhamdulillah, kuletakkan Tas dan aku mulai bersandar di kursi yang memang sudah tersedia di teras depan rumahnya Nungki.. “Pengen di dalam apa diluar saja mas” kata Nungki sambil membuka pintu… “Diluar aja dek, biar bisa liat pemandangan dan merasakan belaian angin desamu” tangkasku kepada Nungki.. “Oke dah” kata Nungki sambil ke dalam mengambil tikar untuk kami…. tak lama kemudian Simbahe (nenek) Nungki juga keluar untuk mbagekake (menyambut) kedatangan kami…  setelah bincang2 sebentar, Nungki mengelurkan 3 bulir buah berduri dengan bau menyengat yang telah lama aku idamkan.. he he he… yah itu DUREN… hem… air liur ku seketika langsung bertambah membayangkan kenikmatan dari buah tersebut.. he he he… Saat aku membelahnya dengan pisau mungil, Nungki mengajak Azis untuk menengok kebun belakang rumah, “kali aja ada yang jatuh lagi” kata Nungki… setelah beberapa saat mereka greilya di belakang rumah, ternyata benar, ada satu buah yang terjatuh, dan ini adalah buah yang paling besar diantara buah yang telah dikelurkan tadi… Alhamdulillah…. kemudian Nungki masuk rumah lagi, dan mengeluarkan satu buah berduri lagi… “Ayo kta habiskan” katanya sambil menenteng buah ber bau menyengat tersebut… segera setelah Duren terbuka… Zret zret…  dengan cepatnya isi duren itu menghilang entah kemana.. “Ayo buka lagi yang ke 2” kata Mas Eko…  segera saja aku membuka lagi buah yang ke 2…. Zret… Zret…. dengan cepatnya… akhirnya buah yang ke 3 juga tak mau ketinggalan… Srut… srut…. (dengan ritme sedikit menurun), untuk yang buah ketiga ternyata kita perlu bantuan Pakdenya Nungki untuk menghabiskan buah tersebut (yang kebetulan pas pulang menghantarkan saudaranya dari tempat kerja).. setelah ngobrol panjang kali lebar dan menikmati banyolan konyolku.. Pakde Nungki akhirnya pamitan untuk kembali ke tempat kerjanya…

 belah durenBelah duren

makan durenNikmatnya duren, (dari kiri: Azis, Nungki, Mas Eko)

durenBukti sejarah

bercandaNgobrol dengan Pakdenya Nungki

Huft… mantap ya… istirahat disik yo..” kataku sambil mengelus perut yang muali sedikir buncit. He he he.. Setelah istirahat beberpa saat akhirnya kami putusnya untuk main2 disekitar lingkungan rumah.. “yuk main ke sungai yang tadi” kata Mas Eko sambil nenujukkan arah sungai yang telah kita lewati sebelumnya.. “Yuk” jawaban kami bertiga (aku, Azis, dan Nungki) kompak.. “tapi ini disingkirkan dulu noh” kataku sambil menunjuk kulit duren yang bercecer di lantai.. setelah membereskan. Akhirnya kami pamitan pada simbah dulu untuk main ke sungai dulu… “Mbah niki badhe nang kali rumiyen..(Nek, kami mau ke sungai dulu ya)” begitu kataku pada simbah… Tak lupa sebelum perjalanan dimulai, aku melakukan sebuah ritual sakral dulu “Ambil pose” sebagai bukti tentang perjalananku kali ini.. he he…

sipitungBerpose sebelum berangkat

Setelah sampai di sugai, kami bermain air sebentar dan ambil beberapa poto juga disana. Yah sebgai dokumentasi aja…

duren lagiBelah duren di sungai

sungaiBerpose di Sungai

Puas setelah main dalam air, ternyata langit mengngatkan kita untuk segera pulang kembali kerumah.. dan kamipun segera bergegas, karena hujan semakin terasa lebat.. Alhamdulillah, sesampai dirumah ternyata angit terang kembali… “Wah ini bener2 diminta untuk pulang neh” gumamku… “Ayo, siap untuk belah duren lagi” Kata Nungki menawarkan… “Hahaha, cukup dulu deh” kataku sambil mengelur perut.. “Ohya, kalo makan duren disusul Minum air degan (kelapa muda) baik gak ya?” kata Nungki.. “keliatane gak masalah deh, yang gak baik itu kalo malah gak jadi cari degannya” aku menyahut dengan banyolan kaku… hi hi… tak mau ambil resiko, aku meminta mas eko untuk menayakan dulu pada rekan yang berprofesi dalam bidang kesehatan terkait hal itu, dan ternyata gak maslah katanya… “Okey, ayo segera meluncur kebeakang rumah” Kata Nungki sambil menuju ke belakang rumah… “Azis, bawa genter (galah) dan sabitnya ya..” kataku saat sudah dibelakang rumah… sebenarnya jika ada yang berani metik langsung keatas lebih enak, tetapi karena gak ada yang berani akhirnya, kita pake galah saja… tlebuk…  satu kelapa telah berhasil aku jatuhkan, untuk memastikan itu kelapa muda, maka terlebih dahulu kepala itu aku pupas dan melihat hasilnya…

kelapa mudaMengupas Kelapa Muda

“Wah mantap gan.. pas banget” kataku sambil menunjukkan kelapa tersebut pada rekan2… “oke mas… itu yang satunya sekalian noh” kata Azis sambil menujuk sebuah kelapa yang letaknya berdekatan dengan kelapa yang tadi.. Tlebuk…. akhirnya 2 kelapa telah berhasil kami turunkan dan segera kami bawa ke depan rumah.. tetapi baru sampai di pojokan rumah, mata mas eko sudah tersangkut pada buah kecil merah yang memang tak banyak bergelantungan di pohonnya… “Ace” teriak mas eko… “Ayo  sekalian aja mas” Nungki meyakinkan mas eko agar tidak sungkan… segera saja kita rontokkan juga ace tersebut.. “Wah masih hijau2 gini apa ya enak dek” kataku kepada Nungki sambil menunjukkan sebuah ace yang terlihat sangat muda… “hah, mas belum tahu seh… yang penting dirontokkan dulu aja mas.. nanti kalo tahu rasanya pasti ketagihan” jawab Nungki sambil memetik ace dengan galah yang dibawanya…

buah buahanAmunisi telah terkumpul (Duren, Kelapa Muda dan Ace)

bakul buahPose Penjual Ganteng

Akhirnya semuanya telah terkumpul, duren masih 2 buah, 2 kelapa muda, dan satu cething penuh ace.. Hem air liar membanjiti kembali kerongkonganku… nyam nyam nyam… “ayo serbu” sentak mas eko…. yang pertama kali kami makan adalah ace yang terlihat hijau tadi. Saat pertama kulihat.. kok acenya bentuknya aneh ya? Tetapi saat ace pertama kali masuk ke mulut… “Wow….” manis betull… ternyata ini bukan ace biasa kawan,, ini namanya ace klengkeng… berkulit tipis, berambut pendek, dengan daging tebal dan iso nglotok serta berbiji kecil.. ternyata benar kata Nungki, walaupun masih terlihat hijau.. tapi rasanya sudah nendang dan bikin ketagihan… he he he… sehingga dalam sekejap Ace pun telh raib masik dalam perut kami ber empat. Ha ha ha… belum puas, akhirnya tiba pada ronde selanjutnya… “Ayo degane ndang di minum” Kata Nungki.. “Siap komandan” kataku sambil mengambil degan dan melubanginya untuuk diminum…. Cleguk.. cleguk.. cleguk… Sueger tenan rek…. ha ha ha.. Alhamdulillah kami sangat terpuaskan dengan jamuan Nungki di Hari ini…

ace klengkengAce Klengkeng

aceBukti sejarah

kelapa muda segerSegarnya minum kelapa muda

…………………………………………………………………………………………………………….Detik-detik perpisahan

Setelah tinggal tersisa 2 buah duren saja, rasa kenyang tenyata baru terasa, sehingga kami istirahat sejenak sambil ngobrol untuk menunggu makanan dicerna.. ha ha ha… Beberapa saat kemudian langit berubah menjadi hitam dan hujan pun  turun… Waktu telah menunjukan pukul 15.10.. “sudah adzan belum ya? Sholat dulu yuk baru kemudian pulang” tanyaku kepada Nungki.. Hujan yang bertambah deras membuat suara adzan dari masjid yang jaraknya cukup jauh dari rumah Nungki tidak terdengar oleh kami… Akhirnya daripada menunggu lama, kami putuskan untuk sholat dirumah Nungki saja… Setelah selesai sholat , tak lupa kami menggantungkan duren yang 2 buah tadi kedalam motor kesayangan kami, 1 di motorku, dan satunya lagi do motor Mas Eko.. Setelah semuanya beres, kami akhirnya berpamitan unutk pulang… Tapi tetep kami tidak melupakan ritual sakral sebelum pulang.. “foto dengan empunya rumah” ha ha ha… “Nungki, tolong pnggilkan simbah dong, kita mau pamitan sekalian poto2.” Pintaku kepada Nungki… Saat simbah sudah didepan mata, kami segera pamitan kepada beliau. Alhamdulillah dapat beberapa do`a juga dari beliau.. “Semoga tetap sehat, dapat kerja yang layak dan barokah ya le (panggilan untuk anak yang lebih muda umurnya)” merasa ada yang kurang kita minta tambahan doa kepada beliau agar didoakan CEPET LULUS juga. He he he..Amien.. suwun ngeh mbah, mugi2 simbah ngeh tetep saras mboten wonten aral setunggal punopo..” perpisahan yang kemudian kami akhiri dengan foto bersama simbah… “cepret”…

silaturahimFoto bersama Simbah

Sebelum pulang ternyata hujan belum reda, dan Nungki baru tersadar kalo ternyata mantelnya masih dibawa adek untuk sekolah.. Ywdah akhirnya dia harus mencari pinjaman dulu ke tetangga.. sambil menunggu Nungki. Akupun ngobrol panjang dengan simbah ngalor ngidul, mbanyol-mbayol.. sempet simbah tak godain juga dengan gombalan2 ku… sampe2 simbahe bilang gini kepada ku “wah tole iki lo… kok rame banget.. masa simbah seng wes sepuh ngene kok yo digodani yo.. konco2ne Nungki iku baru tole yang keliatan ceria lan rame banget..” kata simbah sambil tersenyum dan geleng2 padaku… “wah.. keliatene nih simbah naksir sama diriku neh.” Gelitik batinku…  he he he… Saat itu budhe Nungki juga kebetulan datang kesitu, ketika melihat kami, itu ibu langsung menawarkan kami untuk membawa pisang sebagai oleh2 pulang.. “Mas bawa pisang mau gak? Itu sudah matang lo.. panenan kebun sendiri” kata ibu.. Hwaaaaa…Mau, tapi sudah kenyang banget dan sudah bawa duren 2.. jadi kami tolak saja deh.. “Maaf lain kali kalo kita sempat main kesitu lagi, jangan ditawari lagi ya bu…” ha ha ha.. gelitik batinku.. Ditengah canda kami dan keluarga disana, Nungki akhirnya datang membawa mantol yang telah berhasil ia dapatkan dari hasil ngrampok, eh pinjam dari tetangganya… ^_^. Alhamdulillah… akhirnya tiba wktu untuk pulang.. Lets goooo… tepat jam 16.45 akhirnya kita segera merubah menjadi rider kembali… “pamit ya bu, simbah.. Assalamu`alaikum…” teriakku sambil memandang terakhirkali mereka di hari ini…

Kami pulang bareng bersama Nungki, bukan Nungki ikut mengantar  pulang hingga ke Solo, tetapi hanya sampai di sekolah SMA Nungki saja, karena kebetulan Nungki ada janjian disana dan kebetulan juga masih dalam satu arah yang sama.  Setelah sampai di sebelum SMA akhirnya kita harus berpisah.. Ucapan terimakasih yang termat saya berikan kepadanya, karena telah mengobati ngidam yang hampir 2 bulan belum sempet terturuti, yaitu MAKAN DUREN. Ha ha ha… “Terimakasih Nungki… Assalamu`alaikum…” kata-kata terakhir sebelum akhirnya aku menarik handle gas di tangan kananku.. Hujan yang cukup deras ternyata menambah indah pemandangan perjalanan pulang kami.. tak hanti2nya kami terus mengucap Masya Alloh dan Alhamdulillah, karena masih diperkenankan untuk melihat bukti kekuasaan alloh tersebut.. air hujan menyapa bagaikan pijatan-pijatan kecil di kulit tanganku… wuihh.. dingin ternyata…

 sawah pegununganPemandangan pematang sawah Kecamatan Kerjo

Laju roda kendaraanku tak secepat laju ketika perjalanan ketika berangkat, kondisi jalan yang licin membuat ku harus lebih berhati2, ditambah pemandangan yang indah telah menyita banyak perhatianku… ngeng ngen ngeng…. Alhamdulillah sudah sampai di Palur… Teringat bahwa tadi sebelum berangkat aku telah membawa barang titipan untuk rekan, setelah kontak pada teman yang tersebut, “Okey, aku di kos, ne juga baru aja sampai” kata temenku lewat speaker HP ku.. Okey dah, akhirnya kita mampir dulu sebentar untuk menyampaikan amanah tersebut. Setelah amanah tersampaikan, maka kami bergegas untuk segera pulang.. ketika hampir sampai kos, kulihat lagi jam di layar Hp mungilku, waktu telah menujukkan pukul 17.33, “Beli makan sekalian yuk Zis” kataku kepada Azis yang duduk di jok bagian belakang.. “Okey mas, tapi dibungkus aja ya”.. begitu jawab Azis.. “Okey kalo gitu”…  jawabku sambil mengacungkan jempol kearah Azis…

………………………………………………………………………………………………Alhamdulillah sampai juga di kos

Alhamdulillah sampai kos juga, waktu kala itu menunjukkan pukul 17.50an.. suara adzan sudah mulai terdengar.. “kita makan dulu aja deh, perutku sudah laper neh” kataku kepada Azis.. namun ternyata azis memilih untuk mandi dulu, akhirnya aku makan duluan bersama Mas Eko… cie cie.. romantis banget.. ha ha ha… bru setelah selesai makan kami melakukan sholat Magrib berjamaah… Alhamdulillah… perjalanan yang luar biasa menyenangkan..

Sepenggal kisah perjalananku di hari ini,

Surakarta, 12 Januari 2012